Keuskupan Purwokerto Ajak Gusdurian Kenalkan Keberagaman di Jambore Diosesan SEKAMI 2019

by -22 views

WONOSOBOZONE – Acara Jambore Diosesan Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (SEKAMI) 2019 yang bertajuk “We Are One” ini dihelat pertama kali oleh Keuskupan Purwokerto di SLB Don Bosco Wonosobo selama 3 hari, pada tanggal 22 hingga 24 Juni 2019.

RD Vinsensius F Dimas Martin Y, Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Purwokerto menyampaikan, bahwa acara Jambore Diosesan SEKAMI 2019 ini merupakan aplikasi dan tindak lanjut dari Jambore Nasional SEKAMI tahun 2018 yang diadakan di Pontianak.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Jambore Nasional 37 keuskupan di Indonesia di Pontianak, tahun lalu. Masing-masing keuskupan yang ada, bisa mengadakan acara keuskupan yang sama, agar apa yang disampaikan disana , bisa sampai ke daerah masing-masing.”, ucapnya.

Tujuan acara ini, tambahnya, selain menjadi wadah persaudaraan para Remaja SEKAMI di Keuskupan Purwokerto dan merupakan perayaan ulang tahun SEKAMI yang ke-176, juga menjaga kobar semangat misioner pada diri remaja dan pendamping sehingga berani menjalani hidup dalam kebhinekaan.

Inti utama adalah tentang kebhinekaan, supaya anak-anak berani menghadapi sesuatu yang berbeda, apalagi bangsa kita juga harus mulai menyadari, harus menerima perbedaan dan harus terus berkarya bersama membangun Indonesia”, tambahnya.

Dengan tema kesatuan, acara dikemas menjadi tiga hal yang harus selalu ada dalam kegiatan yaitu edukasi (saling belajar), selebrasi (ungkapan simbolis dengan doa dan perayaan), dan animasi (aktivitas dinamika kelomopok, gerak dan lagu, interaksi, dan sharing). Dipilihnya Wonosobo sebagai tuan rumah penyelenggara adalah selain karena strategis, SLB Don Bosco sangat representatif dan bisa menampung peserta dengan jumlah 500 pelajar dan pendamping.
RD Dimas berharap, dengan acara ini masing-masing dari dekenat, agar punya inisiatif untuk mengadakan kegiatan serupa.

Dan semoga di masing-masing paroki pun juga ada kegiatan macam ini, jadi bisa lebih tersampaikan”, terangnya.

Suasana hangat dan antusias terlihat saat Haqqi El Anshari, pria dengan kupluk tinggi yang dikenal sebagai tokoh lintas agama di Wonosobo, mewakili Gusdurian berdiri di hadapan ratusan siswa utusan dari 25 paroki se Keuskupan Purwokerto untuk menyampaikan tentang keberagaman.


Haqqi El Anshari, pemateri dari Gusdurian mengapresiasi Keuskupan Purwokerto yang sudah menyelenggarakan acara Jambore Diosesan dengan melibatkan banyak pihak seperti Gusdurian Wonosobo, Gusdurian Banjarnegara dan Mafindo. Haqqi berharap agar acara seperti Jambore ini bisa lebih sering diadakan, karena salah satu upaya mengedukasi pentingnya keberagaman.


Bukan hanya untuk Katolik, Muslim juga lainnya, saya harap bisa membuat acara yang serupa. Karena di masa ini, tanpa kita sadari bermunculan eksklusivisme, ini pentingnya mengenalkan kemajemukan dari usia dini. Tantangannya adalah bagaimana mengemas materi agar bisa tersampaikan untuk remaja usia SD-SMP. Pendekatan yang digunakan haruslah menarik, contohnya dengan games, bercerita lewat foto dan gambar, hingga menonton film pendek”, jelas Haqqi.

Hal senada disampaikan Astien Meiningsih dari Mafindo. Dia menilai acara ini tepat sasaran karena edukasi terkait keberagaman dan kebhinekaan juga mengenai hoax wajib disampaikan sejak usia dini.


Kita banyak mengira, korban hoax dimulai dari usia remaja SMP ke atas, tapi studi kasus yang ada ternyata anak usia SD pun sudah mulai terpapar hoax lewat media sosial. Apalagi jika hoax menyangkut agama dan kepercayaan. Oleh karena itu, edukasi dan kegiatan seperti ini harus dilakukan sedini mungkin. Kemarin, selain lewat games, kami juga mengenalkan aplikasi Hoax Buster Tools untuk bisa mengecek kebenaran informasi”, jelas Astin.

Faza Luthfia, Gusdurian Wonosobo juga merasa senang dan bangga bisa ikut belajar bersama di agenda Jambore ini. Dia dan teman-teman dari Gusdurian Wonosobo dan Banjarnegara juga menyelenggarakan games interaktif soal keberagaman.

Mereka tahu kalau saya beda agama, karena yang pakai kerudung kan cuma satu, tapi mereka biasa saja, malah antusias nanya, ngobrol-ngobrol. Yang paling saya ingat, mereka bilang begini, walaupun beda agama tapi tetap berteman, karena Indonesia itu beragam. Disitu saya merasa, wow! Ini acara yang keren! ”,ucapnya.


Salah satu peserta kelas 8 dari Cilacap, Veronica, sangat terkesan dengan acara Jambore yang baru pertama kali ia ikuti.


Acaranya seru, dan kayaknya nggak akan saya lupakan seumur hidup. Senang karena nambah pengalaman, bisa kumpul dengan teman baru. Tambah pengetahuan tentang keberagaman. Baru kemarin tapi sudah kangen kumpul lagi. Semoga bisa jadi agenda rutin.”, ungkapnya. (Wen)

Penulis : Wening Tyas Suminar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *