Kisah Putra Kinasih Sunan Giri Gresik Penyebar Islam di Banjarnegara

by -490 views

BANJARNEGARA – Nama Wali Songo begitu masyhur di Nusantara sebagai penyebaran agama Islam di Indonesia. Namun, di luar mereka tentu banyak ulama lain yang juga berperan dalam penyebaran atau pengembangan agama Islam di Nusantara.

Satu di antaranya adalah Pangeran atau Sunan Giri Wasiat. Makamnya berada di puncak Dukuh Dagan, Desa Bondolharjo, Kecamatan Punggelan. Nama ulama ini bagi sebagian orang masih terdengar asing, bahkan di Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah tempatnya bermukim hingga berpulang ke haribaan-Nya.

Perlu diketahui, nama Giri Wasiat hampir selalu disebut dalam berbagai literatur yang mengisahkan cikal bakal Banjarnegara. Sunan Giri Wasiat, menurut juru kunci makam Muhsinin, berdasarkan pengetahuan dan referensi yang dia baca, tak lain putra kinasih Kanjeng Sinuhun Satmoko atau Sunan Giri alias Raden Paku alias Muhammad Ainul Yakin yang berkedudukan di Giri Gajah, Gresik, Jawa Timur.

Oleh ayahandanya itu, Giri Wasiat dengan saudaranya yaitu Giri Pit dan Nyai Sekati diutus untuk mengembangkan agama Islam ke wilayah barat atau Jawa Tengah.

Sesampainya di Banjarnegara, ketiganya sempat transit di Padepokan Selamanik. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah yang kini dikenal dengan nama Kecamatan Banjarmangu.

Penamaan wilayah itu konon juga terkait pengalaman putra-putri Sunan Giri itu yang sempat bingung ketika sampai di pertigaan Banjarmangu.

Menurut Muhsinan, mereka bingung untuk membagi rute setibanya di persimpangan itu.

“Bingung itu Jawanya mangu-mangu. Sehingga di sana diwariskan nama Banjarmangu, dari kata Banjar dan mangu,” terangnya, Selasa (15/5/2019). 

Muhsinin menuturkan, tiga bersaudara ini akhirnya memutuskan berbagi rute untuk menyambung perjalanan mereka.

Giri Wasiat meneruskan misi perjuangannya ke arah barat hingga menetap di Dukuh Dagan, Desa Badakarya (kini masuk Desa Bondolharjo). Adapun Giri Pit meneruskan perjalanannya ke wilayah yang kini disebut Gripit di lereng Gunung Pawinihan, Kecamatan Banjarmangu.

Sementara Nyai Sekati akhirnya menetap di wilayah Kecamatan Wanayasa. Di Dusun Dagan, Sunan Giri Wasiat meninggalkan sebuah masjid dan petilasan.

Sayang, bangunan lama masjid yang berusia ratusan tahun itu dibongkar karena lapuk dan diganti dengan bangunan baru. Selain masjid, Sunan Giri Wasiat juga meninggalkan petilasan berupa batu yang konon jadi tempat favoritnya.

Karena sering ditempati, batu itu bahkan sampai meninggalkan bekas lekuk tubuh Pangeran Giri Wasiat.

Sayang, karena berada di lahan pribadi warga, petilasan itu dikubur sehingga tak terlihat sekarang.

Giri Wasiat juga disebutnya meninggalkan jubah dan perlengkapan lain yang masih tersimpan. Khusus peninggalan ini, Muhsinin enggan memperlihatkannya.

“Jubahnya masih ada, tersimpan secara baik,” jelasnya.

Selalu ada peziarah yang datang ke makam Sunan Giri Wasiat. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan ada yang berasal dari luar Jawa seperti disampaikan kepada Muhsinin. Niat dan tujuannya beragam, sesuai kehendak masing-masing berziarah ke makam ini.

Artikel dikutip dari TribunJateng.com Penulis Khoirul Muzaki, link http://jateng.tribunnews.com/2019/05/18/kisah-sunan-giri-wasiat-penyebar-islam-di-banjarnegara-putra-kinasih-sunan-giri-gresik?page=4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *