Beduk Karya Perajin asal Desa Grabag Magelang Rambah Pasar Internasional

by -136 views

MAGELANG – Hasil karya perajin bedug asal Dusun Bleder, Desa Ngasinan, Kecamata Grabag, Kabupaten Magelang, ternyata bukan  hanya dikenal di nasional saja, tetapi bisa tembus hingga pasar internasional.

Zaemadi perajin berusia 61 tahun. Sejak tahun 1991, hingga tahun 2019, sudah ada ratusan beduk yang telah dibuatnya.

“Saya membuat beduk sejak tahun 1991. Dulu sebelum bikin ini, saya kerja bakul sapi, tetapi bangkrut. Rumah saya jual buat bayar utang. Setelah itu nyoba peruntung ke jakarta, jadi buruh apa saja. Lalu pulang lagi, bikin arang dan dijual. Sampai akhirnya bikin beduk ini,” kata Zaemadi, saat ditemui di rumah produksi beduknya.

Dari beduk ukuran biasa berdiameter 80 sentimeter dengan panjang 1,25 meter hingga beduk berdiameter 130 sentimeter, panjang 160 sentimeter. Dari yang seharga Rp 15 juta, sampai yang terjual Rp 52,5 juta.

Beduk-nya pun telah dikirim ke berbagai daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Medan, Riau. Untuk luar negeri, beduk-nya sudah sampai Italia dan paling banyak dipesan dari Malaysia.

Untuk satu beduk, lama pengerjaannya bervariasi. Ada yang hanya delapan bulan, tetapi juga ada yang sampai setahun lebih. Proses pengeringan kayu yang memakan waktu cukup lama, hingga setahun. Pembuatannya relatif cepat, beberapa bulan saja, tergantung tingkat kesulitan.

“Lama pengerjaan, semisal kalau tebang pohonnya bulan satu, maka harus menunggu delapan bulan sampai setahun untuk mengeringkan kayunya. Proses pengeringannya masih manual, dengan sinar matahari sehingga waktu lama,” ujar Zaemadi.

Kayu yang digunakan dari pohon Sengon, Albasia, dan Munggur yang memiliki diameter yang besar. Pohon dengan diameter besar tersebut sudah jarang ditemukan di Magelang, sehingga kayu harus diambil dari wilayah Purworejo, Semarang, dan Temanggung.

Bentuknya potongan-potongan kayu yang besar. Kurang lebih kayu itu dapat dibikin lima beduk. Setelah dikeringkan, bahan kayu itu langsung dikreasikan jadi beduk.

Kulit beduk sendiri juga dicarikan kulit sapi yang khusus. Kulit sapi jawa terutama. Kulit sapi varietas itu dinilai lebih kuat.

“Ada 10 orang perajin yang bekerja membantu membikin dan mengukir beduk. Ukiran kaligrafi yang dibuat secara manual sesuai permintaan, tetapi umumnya adalah bacaan Hayya Alas Salah dan Hayya Alal Falah, yang berisi seruan atau ajakan untuk salat. Seperti halnya azan, beduk ini juga berfungsi memberikan penanda dan mengingatkan orang-orang untuk salat,” katanya.

Beduk buatan Zaemadi dan para perajin diklaim tahan lama hingga puluhan tahun.

“Kalau dihitung, saya pikir tak terhitung ya. Ratusan mungkin, dan banyak yang masih awet sampai sekarang. Saya tak pernah mendapat pengembalian beduk, karena rusak atau apa. Tahan lama dan awet,” tutur pria beranak lima tersebut.

Beduk karya Zaemadi dan rekan-rekan perajin yang tergabung dalam Agung Workshop sendiri masih terus bekerja membikin beduk.

Beduk bikinannya telah dipamerkan di berbagai daerah dan pameran, juga telah tersebar di daerah-daerah tingkat nasional maupun mancanegara.

Artikel dikutip dari Tribunjogja.com Penulis Rendika Ferri,  link
http://jogja.tribunnews.com/2019/05/07/beduk-karya-perajin-asal-grabag-magelang-rambah-pasar-internasional?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *