Hampir Punah, Warga Desa Gumelem Banjarnegara Hidupkan Tradisi Bandan

by -47 views

BANJARNEGARA – Masyarakat Jawa identik dengan aneka kesenian tradisionalnya. Seiring perkembangan teknologi serta gempuran arus modernisasi, sebagian budaya tradisional masih mampu bertahan dan ada juga yang dilupakan hingga tenggelam seiring perkembangan zaman.

Pokdarwis Desa Gumelem Kecamatan Susukan, Satrio mengatakan, masyarakat Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon Kecamatan Susukan mencoba menghidupkan kembali kesenian tradisional atau hiburan rakyat yang terancam punah.

“Bandhan itu tradisi yang hampir punah. Ini coba dihidupkan lagi,” kata Satrio.

Mereka biasa menyebutnya Bandhan. Pertunjukan yang kental dengan nuansa magis. Sekilas, pertunjukan ini mirip dengan atraksi sulap. Penampilannya mengundang heran penonton akan rahasia di baliknya.

Dalam pertunjukan ini, pemeran utamanya adalah seorang pria yang tangannya diikat tali oleh seorang pawang. Sebuah kurungan besar yang tertutup kain hitam dan jarit disiapkan di sebelahnya.

Wadah itu berisi pakaian perempuan adat Jawa dan perlengkapan untuk berdandan. Dalam kondisi tangan terikat, pria berpakaian santai itu menari-nari hingga sang pawang menutup tubuhnya dengan kurungan yang telah disiapkan.

Nampan berisi perlengkapan pakaian perempuan Jawa juga berada di dalam. Nyanyian dengan iringan musik gamelan terus didendangkan.

Sampai kurang lebih 15 menit kemudian, sang pawang membuka kurungan itu hingga keanehan terjadi. Sang pria yang terkurung berubah drastis penampilannya.

Pakaian yang dia kenakan sudah lepas, berganti pakaian adat dengan dandanan khas perempuan Jawa.

Bukan hanya penampilannya yang berganti, tingkah pria itu pun berubah gemulai layaknya perempuan. Dia lantas menari dengan gerakan lembut khas puteri keraton.

Sang pawang kemudian mengurung kembali hingga pria itu berubah kembali mengenakan pakaian biasa seperti sedia kala.

“Dia berubah berpakaian biasa lagi setelah dikurung kembali,” katanya.

Satrio mengaku tak tahu persis filosofi di balik pertunjukan itu. Tetapi ia dapat memetik pesan yang disampaikan di balik tradisi itu.

Dalam pertunjukan itu, seorang pria biasa dalam waktu singkat bisa berubah menjadi putri keraton. Nasib orang memang tak ada yang tahu. Seorang biasa bisa saja berubah seketika menjadi pembesar atau kalangan bangsawan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bamjarnegara Dwi Suryanto mengatakan, Bandhan adalah satu di antara tradisi lokal yang coba dihidupkan kembali oleh masyarakat Desa Gumelem Kecamatan Susukan.

“Bandhan melengkapi kekayaan budaya lokal yang berkembang di wilayah itu semisal Ujungan dan Tundan Belis. Ujungan adalah ritual meminta hujan dengan cara adu pukul menggunakan tongkat rotan,” katanya.

Pihaknya pun berencana mengadakan kembali Festival Ujungan pada puncak kemarau, September 2019 mendatang. Pihaknya ikut mendorong pelestarian tradisi lokal melalui asistensi maupun pemdampingan terhadap kelompok budaya.

Saat itu, masing-masing desa atau kecamatan diberi kesempatan untuk menampilkan seni budayanya sehingga mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas.

“Even itu mendorong pemerintah setempat untuk menggali kearifan lokalnya masing-masing untuk dilestarikan. Kami sifatnya asistensi dan pembinaan,” imbuhnya.

Penulis: Khoirul Marzuki / suharno
Sumber: http://jateng.tribunnews.com/2019/05/06/hampir-punah-warga-banjarnegara-hidupkan-tradisi-bandan-ubah-lelaki-jadi-putri-keraton?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *