Dinkes Wonosobo Buru 519 Orang Suspect TBC

by -6 views

WONOSOBOZONE – Jumlah penderita tubekolusis (TBC) di Kabupaten Wonosobo diperkirakan mencapai lebih dari 1600 orang hingga awal Tahun 2019 ini.

Permasalahan muncul, karena dari jumlah itu, tak kurang dari 519 orang yang diduga menderita TB belum ditemukan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten, Junaedi, ketika berbicara sebagai narasumber talk live peringatan hari TB sedunia di Dieng Creative Hub, Selasa (26/3) menegaskan, Dinkes bakal mengoptimalkan jaringan kerjasama dengan berbagai unsur masyarakat untuk memburu para suspect tersebut, demi mewujudkan target Wonosobo bebas TB sebelum Tahun 2030.

“Ada sejumlah langkah yang kita upayakan demi mendorong agar masyarakat sadar terhadap bahaya penyakit TB ini, termasuk di dalamnya adalah dengan menggandeng unsur masyarakat, lembaga resmi pemerintah hingga ormas,” terang Junaedi.

Penderita TB yang belum ditemukan, menurut Junaedi lebih membahayakan karena tidak menjalani pengobatan sesuai standar dari Kementerian Kesehatan dan berpotensi menjadi sumber penularan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sesuai dengan tema yang diangkat dalam peringatan Hari TB Sedunia, yaitu “Saatnya Wonosobo Bebas TB dari Saya” Junaedi berharap muncul kesadaran di lingkup masyarakat apabila merasakan gejala penyakit seperti Tuberkolusis untuk segera memeriksakan diri pada pelayanan kesehatan terdekat.

Dari data yang ada di Dinas Kesehatan, Junaedi menyebut, dari jumlah penderita TB yang telah ditemukan, baru sebanyak 989 orang yang menjalani pengobatan sampai tuntas. Sisanya, diakui Junaedi memilih tidak melanjutkan pengobatan karena berbagai sebab.

“Kalau karena meninggal maka faktor resiko penularan berkurang, namun banyak yang karena sudah tidak sabar, sehingga hal ini justru dapat menyebabkan potensi resisten basil TB terhadap obat,” terangnya.

Ia menegaskan, penyakit TB dapat dicegah dan dapat diobati sehingga masyarakat tidak perlu takut untuk periksa dan menjalani pengobatan apabila diagnosa dokter memang mengarah pada suspect TBC.

Kepada sejumlah lembaga yang selama ini telah bermitra dengan Dinas Kesehatan, Junaedi juga meminta agar langkah-langkah preventif seperti skrining terus dijalankan.

“Contohnya seperti kerjasama kami dengan Kantor Kementerian Agama, yang menghasilkan langkah skrining kepada para santri di pondok pesantren, juga dengan Lembaga Pemasyarakatan untuk skrining para warga lapas, kita semua berharap dapat terus berlanjut,” tambahnya.

Kedepan, Junaedi juga mengaku akan menjalin kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja, agar dapat melakukan upaya skrining kepada para tenaga kerja di sejumlah perusahaan.

Pentingnya pencegahan dan pengobatan tuntas penyakit TB, demi mewujudkan Wonosobo Bebas TB 2030 juga ditegaskan oleh ahli penyakit paru, dr Kenyorini SpP. Menurut dr Kenyo, seseorang sudah dapat diduga menderita TB ketika batuk tidak sembuh selama 2 minggu.

“Untuk mencegah agar tidak sampai menjadi penderita TBC, kami harap agar masyarakat mendukung program TOSS yaitu temukan obati sampai sembuh apabila di sekitarnya menemukan adanya orang yang diduga terpapar TB,” beber dr Kenyo.

Program TOSS, disebut dr Kenyorini telah disebarkan melalui berbagai forum sosialisasi termasuk dengan memasang spanduk di setiap puskesmas di seluruh Wonosobo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *