Akper Ngesti Waluyo masuk 10 PT yang lulus tertinggi pada Ukom

by -229 views

TEMANGGUNGZONE – Akademi Keperawatan Ngesti Waluyo Parakan Temanggung masuk dalam 10 institusi Perguruan Tinggi yang lulus tertinggi Perawat dari evaluasi uji kompetensi periode Oktober (III) tahun 2018. Monica Kartini selaku Pembantu Direktur 1 Bagian Akademik dan Kemahasiswaan mengatakan dari ke 10 PT itu Akper Ngesti Waluyo tertulis pada nomor ke tiga setelah Akper Fatmawati. Untuk Penomoran itu, dikatakan Monic, pihaknya belum mengetahui secara pasti berdasarkan apa. “Kemungkinan berdasarkan abjad,” kata Monic, Kamis (29/11).
Lebih lanjut Monic menjelaskan, Uji kompetensi (ukom) perawat tiap tahun diadakan sebanyak tiga kali pada bulan Maret yang disebut Ukom pertama, Juli dengan nama Ukom dua dan Oktober disebut periode III ukom. Ukom ini wajib diikuti setelah mahasiswa lulus dari pendidikan sebagai syarat untuk mendapatkan serkom (sertifikat kompetensi) yang nantinya akan digunakan untuk mengurus STR (surat tanda registrasi) perawat dari PPNI. “Tiap tahun Akper kami mengikuti satu kali periode ukom, dan selama ini kami ikut pada periode ke-3 dibulan Oktober,” jelas Monic.
Tahun ini ada sebanyak 109 peserta ukom dari Akper Ngesti Waluyi yang terdiri dari 106 mahasiswa lulusan tahun 2018 dan baru mengikuti ukom untuk pertama kali (first taker) serta tiga alumni yang telah lulus dan sudah pernah mengikuti ukom sebelumnya (re-taker) namun belum kompeten. “Puji Tuhan tahun ini kelulusan ukom 100%, jadi 109 peserta ukom itu dinyatakan kompeten semua,” tutur Monic.
Sebelumnya, pihak Akper Ngesti Waluyo pun telah melakukan berbagai persiapan seperti latihan soal-soal ukom (try-out) di institusi dengan jumlah soal dan model uji yang disamakan dengan ukom, mengikutsertakan mahasiswa dalam try-out ukom tingkat regional Jawa Tengah dan try-out ukom Nasional.
Selain itu, juga mengadakan pembekalan khusus sekitar sebulan sebelum ukom bagi mahasiswa dan alumni. “Itu kami lakukan agar para calon peserta ukom siap,” ucap Monic lagi. Yang tidak kalah penting, tambah Monic adalah selama proses pendidikan, pihaknya berusaha mengedepankan learning outcome yang dituju dan keterkaitan dengan konteks nyata di klinis, serta dalam soal-soal ujian tiap mata kuliah dibuat dalam bentuk kasus (vignette) yang juga digunakan di ukom, sehingga baik dosen maupun mahasiswa sudah terbiasa dan terlatih.
Masing-masing dosen pembimbing akademik juga memberikan support dengan cara masing-masing dalam mendukung mahasiswa menghadapi ukom. “Ada yang memberikan semangat melalui whatsapp, bertemu khusus untuk mendiskusikan soal-soal, dan memberitahu mahasiswa untuk mempelajari buku-buku yang berkaitan,” pungkas Monic.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *