Dosen FIB Undip Presentasikan Wisata Kopi Wonosobo di Seminar Internasional

by -117 views

WONOSOBOZONE – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “International Conference Southeast Asia Maritime World in the Age of Motion (Icon Seamo): Exploring the Root of Multicultural Society in Southeast Asia” di Hotel Noormans, Semarang pada Kamis, 29 November 2018.

.

Acara tersebut merupakan agenda rutin yang dilakukan dua tahun sekali. Panitia mendatangkan lima pembicara utama dari negara yang berbeda. Kelima pembicara yaitu Prof. James T Collins (Amerika), Dr. Sher Banu (Singapura), Diotima Chattoraj (Brunai Darussalam), Thongphon Ph.D (Thailand), dan Prof. Mudjahirin. Tohir (Indonesia) menyajikan topik yang berbeda-beda. Menjadi sub-topik dalam seminar tersebut adalah Pemertahanan Bahasa, Pengembangan Sosial Masyarakat, Sejarah, dan Budaya. Kelima pembicara mempresentasikan makalah mereka dalam sesi pleno. 

.


Usai sesi Pleno, seminar dilanjutkan dengan sesi paralel dimana para peserta seminar yang sebelumnya telah mendaftar sebagai pemakalah (kurang lebih berjumlah 43 pemakalah) mempresentasikan makalah masing-masing.

.

Dalam sesi tersebut Rifka Pratama, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip yang juga warga asli Wonosobo, mengangkat topik Wisata Kopi sebagai materi presentasinya. Dalam presentasinya yang berjudul “Revitalizing Coffee Tourism: A Culturual Engineering for Tourism Development in Wonosobo Regency”  Rifka menyampaikan potensi kopi sebagai salah satu penunjang pariwisata di Kabupaten Wonosobo.

.

Lebih lanjut, Rifka berpendapat bahwa selama ini Wisata Kopi (Coffee Tourism) belum menjadi branding pariwisata di Wonosobo, sementara menurut risetnya hampir di 15 kecamatan di Wonosobo terdapat varian kopi yang potensial. Dia menyebut Bowongso, Bogoran (Sapuran), Kopi Dieng, Karangluas, Jenggeran, dan lain-lain sebagai beberapa contoh daerah penghasil kopi.

.

Adapun varian kopi yang dimaksud mencakup dua varian utama kopi yaitu, Robusta dan Arabika. Jika digarap dengan baik maka kopi bisa menjadi branding pariwisata wonosobo, selain carica dan kacang dieng. Hal ini, lanjut Rifka, juga didukung oleh kondisi geografis Wonosobo dan hawa sejuknya. 

.


Dalam konsep yang dipakai oleh Rifka yaitu “cultural engineering” yang dimaksud adalah bahwa secara teori harus ada perencanaan yang matang untuk mengonsep kopi agar menjadi salah satu branding pariwisata. Menurut Rifka, konsep “cultural engineering” atau rekayasa budaya ini adalah sebuah konsep dimana elemen-elemen terkait yaitu pengusaha, masyarakat, peneliti, dan pemerintah harus disinergikan untuk dapat menempatkan kopi sebagai bagian dari budaya.

.

Menurutnya selama ini masyarakat terlalu menyempitkan pengertian budaya sebagai kesenian saja. Padahal, lanjutya, budaya itu sangat luas. Misalnya, ada tujuh unsur kebudayaan, termasuk organisasi dan ekonomi. Sehingga misalnya, jika kopi selama ini kita anggap sebagai komoditas dagang semata sebenarnya tidak tepat.

.

Oleh sebab, sudah sejak lama kopi menjadi medium yang melekatkan masyarakat di desa sampai kota. Jadi jika ada upaya untuk menjadikan kopi itu membudaya di masyarakat, bukan tidak mungkin Wonosobo ini akan memiliki nilai tambah lain yaitu daerah dengan wisata kopi yang menarik. Wisata kopi yang dimaksud termasuk perkebunan, produksi, dan konsumsi di kafe-kafe bercita rasa lokal.


Kontributor : @pratamarifka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *