Delegasi Festival HAM Coba Jajanan Pasar Ting Njanti

by -43 views

WONOSOBOZONE – Ratusan peserta konferensi festival hak asasi manusia dari berbagai daerah mencoba aneka jenis jajanan tradisional unik yang diperjual belikan di pasar Ting Njanti, Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kamis (15/11). Di pasar yang baru dibuka awal bulan November lalu tersebut, mereka juga menikmati sajian tari tradisional lengger khas Wonosobo. Welsi, salah satu delegasi asal Ambon yang turut dalam kunjungan ke pasar Ting, mengaku kagum dengan khazanah budaya Wonosobo yang berpadu dengan kekayaan kuliner dan disajikan dalam bingkai harmoni sosial kemasyarakatan khas pedesaan. “Pasarnya unik, yang dijual juga unik, sampai cara membayarnya pun unik, ini luar biasa bagi kami,” ungkap Welsi.

Selain menikmati aneka jajanan tradisional seperti apem, sengkulun, lemper, opak sampai angleng dan rangin, Welsi bersama sejumlah teman juga terlihat membeli beberapa jenis cinderamata hasil kerajinan warga setempat. Pujian terhadap orisinalitas suasana di pasar ting Njanti yang mencerminkan kehidupan tempo dulu juga diutarakan Wira, pemuda dari Padang, Sumatera Barat. Menurut Wira, keunikan para pedagang yang setiap berjualan mengenakan busana adat jawa juga membuatnya merasa terlempar ke masa silam. “Terlebih ini setiap transaksi jual beli kita wajib menggunakan benggol, sejenis mata uang masa lampau yang mengingatkan saya pada adegan di film-film,” tuturnya sambil terkekeh. Kehadirannya di pasar Ting, diakui Wira juga menjadi sarana refreshing setelah padatnya acara di festival HAM, yang akan berakhir pada hari Rabu ini. Ia berharap, Kabupaten Wonosobo sebagai daerah yang telah dikenal ramah terhadap hak asasi manusia mampu melestarikan tradisi dan budaya khas agar nantinya lebih dikenal luas ke seantero nusantara, bahkan dunia.

Kunjungan delegasi festival HAM tersebut, diakui Sekretaris Desa Kadipaten Tatag Taufani Anwar menjadi berkah bagi warga Giyanti. Pasar Ting yang sedianya dibuka pada setiap akhir pecan, mulai Sabtu malam hingga Minggu, disebut Tatag menjadi mendadak ramai dan para penjual yang rata-rata merupakan warga setempat pun terlihat antusias dan gembira. Kepada para delegasi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia itu, Tatag mengaku berupaya menyajikan suasana kehidupan desa di masa-masa sebelum kemerdekaan. “Pasar ini memang kami desain, selain untuk mengakomodasi kreatifitas warga masyarakat Kadipaten, juga untuk mengingatkan kembali kita semua bahwa kehidupan di masa lalu sangat bersahabat dan ramah dengan alam, termasuk dalam hal tata kelola pasar nya,” tandas Tatag.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *