Kopi Lereng Sindoro Sumbing Makin Mendunia

by -405 views

Temanggungzone – Indonesia adalah negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia. Hingga saat ini, sudah terdaftar sebanyak 22 Indikasi Geografis untuk kopi Indonesia, di antaranya adalah Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Pupuan Bali, Kopi Arabika Sumatera Koerintji, Kopi Liberika Tungkal Jambi dan Kopi Liberika Rangsang Meranti.
.
Potensi kopi di wilayah Jawa Tengah pun juga sangat tinggi dan terus berkembang. Bahkan sudah ada daerah yang memiliki dua Indikasi Geografis kopi. Daerah tersebut adalah Kabupaten Temanggung dengan Indikasi Geografis Kopi Arabika Jawa Sindoro-Sumbing dan Indikasi Geografis Kopi Robusta Temanggung.
.
Meski terdapat jenis Arabika, kopi di Daerah yang mendapat julukan negeri tembakau itu masih didominasi dengan kopi jenis Robusta. Hingga kini robusta di Temanggung mencapai 9.000-an hektar, arabika baru 2500-an hektar sehingga penanaman arabika terus ditambah, diitanam di lereng-lereng. Salah satu daerah penghasil kopi arabika di Temanggung adalah desa Batursari kacamatan Kledung yang berada di lereng Gunung Sumbing.
.
Salah satu petani sekaligus pengolah kopi di desa tersebut Suwandi (48) ketika ditemui wartawan suara merdeka, Sabtu 29 September 2018 di lahan kopi miliknya, ia mengatakan bahwa ada sebagian lereng sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Wonosobo dan ia menuturkan jika Temanggung dan Wonosobo yang masuk wilayah lereng sumbing sangat berpotensi sekali untuk ditanami kopi karena memiliki ketinggian yang memenuhi syarat yakni 1500-1600 mdpl.
.
Terkait perihal kualitas masing-masing, keduanya hampir memiliki kualitas yang sama baik. Dikarenakan, menurut Suwandi Temanggung dan Wonosobo masih satu geografis, hanya saja kopi dari Temanggung lebih dulu dikenal.

“Untuk masalah kualitas, saya rasa baik semua, keduanya sama-sama memiliki keunggulan di rasanya yang khas nan unik, yaitu ada rasa tembakau karena Kopi ditanam bersama tanaman tembakau dalam satu areal, selain itu juga memiliki rasa manis”, jelas Suwandi

“Meski memiliki kualitas dan keunggulan yang sama, tapi kan kopi Temanggung berkibar duluan baru Wonosobo dengan kopi Bowongsonya dan sekarang kopi lereng bismo dari Slukatan Wonosobo menyusul, kopi daerah gunung prahupun juga mulai buming”, tambah Suwandi yang telah mengikuti berbagai pelatihan dan festival kopi.
.
Meski begitu, lanjut Suwandi, perbedaan antar keduanya juga pasti ada. Perbedaannya dikatakan Suwandi terletak pada randemen, yaitu seumpama 10 kg kopi basah Temanggung dijadikan kopi kering maka akan menghasilkan 4 kg, sementara 10 kg kopi basah Wonosobo hanya menghasilkan 3 kg saja bila dijadikan kopi kering.
.
“Randemen berbeda karena proses penyinaran matahari di temanggung lebih pagi sehingga penyinarannya sempurna dan membuat kopi juga memiliki aroma yang lebih sedap”, jelas Suwandi
.
Suwandi juga menjelaskan bahwa dalam budidayanya, kopi memerlukan tanaman pelindung untuk mengurangi intensitas matahari yang sampai di kanopi daun. karena tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik apabila diusahakan pada areal yang terbuka.
.
“Pohon kopi membutuhkan naungan pohon lain yang lebih tinggi agar tidak terpancar langsung oleh matahari, misalnya pohon alkasiah, mlanding, tanaman gamal, lamtoro, dadap, suren dan lain sebagainya”, jelas Suwandi.

“Sebenarnya tak hanya kopi, penyinaran yang bagus juga berdampak pada tanaman dan komoditas lain seperti tembakau dan sayuran”, tambah Suwandi.
.
Untuk budidaya selama ini, Suwandi dan petani kopi lainnya di desa Batursari masih mengandalkan bantuan dari pemerintah, dari keterangan Suwandi, ditahun 2018 ini, desa Batursari telah mengajukan 20 ribu batang bibit kopi jenis Lini S dan Komasti.
.
“Hasil panen kopi tahun ini juga merupakan bantuan pemerintah tahun 2008 dengan jumlah sekitar 6 ribu bibit kopi dengan jenis Lini S, jenis ini merupakan jenis yang bagus karena mampu bertahan hidup sampai 25 tahun lebih”, jelas Suwandi.
.
Rata-rata petani kopi di Batursari menjual hasil panennya masih dalam bentuk glondongan kopi atau biasa disebut dengan chery, karena belum semua petani kopi mengerti tentang bagaimana cara proses olah kopi, beda dengan di daerah Desa Tlahab.
.
“Di tlahab para petani kopinya sudah mengerti bagaimana cara pengolahan kopi, sehingga mereka menjualnya dengan bentuk green been dan rose been, makanya para petani kopi di sini selain kepada saya, mereka menjualnya ke desa tlahab”, ujar Suwandi
.
Beberapa tahun lalu warga Batursari masih enggan menanam kopi, sebab pola pikir mereka masih sangat menggantungkan dari tanaman tembakau. Namun kini lambat laun petani mulai menanam kopi arabika dan ternyata kualitasnya unggul.
.
“Dulu pohon kopi ditebang dijadikan kayu bakar, Kalo ada yang panen itu pun masih asal-asalan, bukan dengan cara petik merah namun dengan cara petik rontok yang dapat membuat pohon tidak berbuah lagi”, cerita Suwandi yang diundang stasiun tv negeri terkait permasalahan kopi di Indonesia itu.
.
Budidaya Kopi dikembangkan tidak hanya sesuai kebutuhan saja. Karena kopi merupakan salah satu komoditi yang dapat dijadikan alat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, penanaman kopi juga dapat digunakan sebagai alat untuk mencegah bencana longsor karena dapat menahan terjadinya erosi. Mengingat daerah Batursari masuk dalam titik merah zona bencana rawan longsor. Maka dari itu budidaya kopi akan terus dikembangkan.
.
Untuk menahan erosi, Suwandi menjelaskan bahwa pohon kopi harus ditanam di tanah teras bangku, baru kemudian pada bagian tanah yang datar ditanami tanaman komoditas lain seperti tembakau dan sayuran sesuai musim.
.
Diketahui bahwa kopi Temenggung telah memiliki banyak prestasi dalam berbagai festival kopi. Suwandipun optimis, capaian tersebut akan terus bertahan sepanjang SDM perkopian terus ditingkatkan dan semua pihak terus memberikan dukung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *