Lengger 5000 Penari Tuai Pujian Warga

by -19 views

Dinilai Kompak dan Serasi, Lengger 5000 Penari Tuai Pujian Warga

Pentas tari lengger oleh 5000 penari yang digelar seusai puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-193, di alun-alun Kota pada Selasa (24/7) menuai apresiasi positif dari warga masyarakat. Tarian rancak oleh pelajar SMP/MTs hingga SMA-SMK dan MA se-Kabupaten Wonosobo tersebut dinilai sebagian besar masyarakat bahkan selayaknya masuk museum rekor Indonesia, mengingat banyaknya jumlah penari dan harmonisasi yang tersaji dengan menawan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo ketika ditemui seusai pagelaran tari tak menampik hal itu. Menurutnya, kekompakan yang tersaji dalam lenger 5000 penari itu sejalan dengan semangat yang diusung Pemkab pada Hari Jadi ke 193, yaitu “Guyub Rukun Mbangun Wonosobo”.

Kepada semua pihak yang telah terlibat di dalam pentas tari maupun seluruh rangkaian prosesi peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke 193, Andang menyampaikan terimakasih dan apresiasi, mengingat tanpa peran banyak pihak, mustahil semua bisa berjalan dengan sukses. “Khususn untuk lengger 5.000 penari ini, kami sangat berterimakasih kepada sekolah-sekolah yang telah mengirimkan siswa dan guru nya, serta seluruh elemen masyarakat yang turut berpartisipasi sehingga momentum sarat nilai sejarah ini dapat terlaksana,” tutur Andang. Peran para pelajar yang notabene merupakan generasi penerus, diakui Andang menjadi bagian dari upaya pihaknya menumbuhkan regenerasi seni dan budaya khas Wonosobo.

Hal itu selaras dengan pendapat Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik, Bambang Sutejo yang menyebut tarian lengger menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo. Bambang yang juga pelaku dan pemerhati seni budaya Wonosobo menjelaskan bagaimana pada awal berdirinya Wonosobo, Raden Mohamad Ngarpah, alias KRT Setjonegoro berjuang bersama para seniman dan seniwati pada masa itu. “Tarian lengger ini menjadi salah satu media menyatukan semangat warga masyarakat pada masa perlawanan terhadap penjajah Belanda,” ungkap Bambang. Inisiatif para pelaku seni untuk menjaga adanya generasi penerus tarian lengger, ditegaskan Bambang sangat layak mendapatkan apresiasi. “Keterlibatan para pelajar ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Wonosobo benar-benar serius menjaga nilai tradisi dan budaya khas, agar ke depan tidak luntur ditelan jaman,” tandas Bambang.

Senada, koreografer sekaligus pengajar seni dan Budaya SMP Negeri 2 Selomerto, Mulyani juga mengakui, meski tidak mudah menyatukan gerak dan langkah 5000 penari, ia menilai pagelaran pada puncak peringatan HUT Wonosobo ke 193 berakhir sukses. “Kami dari SMP Negeri 2 Selomerto mengirim tak kurang dari 250 siswa siswi untuk pagelaran ini, dan sangat bersyukur mereka mampu menjalankan peran mereka masing-masing dengan baik, meski banyak yang merupakan siswa-siswi baru,” terang Mulyani. Ia berharap, kedepan Pemkab Wonosobo semakin memperluas ruang gerak seni dan budaya, sehingga anak-anak muda selaku generasi penerus pembangunan tidak lupa pada sejarah serta kesenian khas mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *