Potensi Wisata Luar Biasa di Kumejing

by -182 views

WONOSOBOZONE – Meski jadi desa terisolir, Desa Kumejing Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo menyimpan panorama alam yang indah, kekayaan hasil bumi, kesenian dan kuliner yang khas. Saat ini desa yang telah menjadi desa wisata alam lestari itu terus getol melakukan pembenahan-pembenahan dan mengembangkan potensi wisatanya, baik wisata air, wisata seni-budaya, wisata kuliner, serta wisata religi.

Desa Kumejing merupakan salah satu desa di Kabupaten Wonosobo yang cukup tertinggal. Karena, untuk bisa menuju ke desa tersebut, masyarakat harus berlayar menggunakan perahu disel melintasi Waduk Wadaslintang dengan durasi waktu sekitar 20 menit. Namun, hal itu menjadi potensi yang layak dikembangkan, karena sepanjang melintasi waduk, kita akan disuguhkan dengan pemandangan pegunungan yang menakjubkan.

Di bagian tepi waduk, terdapat hamparan sawah petani, bebatuan indah tersusun sangat rapi dan rimbunnya tanaman pegunungan yang mengitari waduk. Tak hanya itu, wisatawan bisa juga menikmati pemandangan alam langit jingga menakjubkan, baik semburat matahari tertib (sunrise) maupun matahari tenggelam (sunset) di atas air waduk. Pancaran cahaya matahari itu, seakan ke luar dari bawah air waduk.

Selain jalur air, sebetulnya terdapat jalur darat untuk menuju Desa Kumejing, namun kondisinya rusak sangat parah sepanjang dua kilometer. Meskipun menghambat aktivitas transportasi warga di desa tersebut, hal itu juga bisa dikembangkan menjadi wisata petualangan atau adventure. “Kekurangan sulitnya moda transportasi ke Kumejing ini, sebetulnya bisa menjadi potensi yang layak jual,” ujar Pembina Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Wonosobo, Agus Purnomo di sela kunjungannya, kemarin.

Rasa lelah untuk menuju Desa Kumejing bakal terbayar dengan menikmati panorama alam memukau Waduk Wadaslintang serta sambutan hangat warga desa setempat. Apalagi, jika terdapat rombongan wisatakan, warga siap menyediakan kuliner khas desa tersebut, yakni bucu pendem. Bucu pendem merupakan makanan khas Desa Kumejing yang biasanya disajikan saat acara selametan atau hajatan, serta menyambut para tamu ke desa tersebut.

Para wisatawan saat ini juga bakal dimanjakan wahana air baru. Karena, saat ini pengelola desa wisata tersebut telah meluncurkan wahana air banana boat. Tarif yang dipatok pengelola pun cukup terjangkau yakni Rp 30.000 per orang pada hari Senin-Jumat dan Rp 25.000 untuk hari Sabtu-Minggu. Dengan tarif relatif murah, pengunjung dapat merasakan sensasi meluncur dan terombang-ambing di air selama sekitar 30 menit.

Satu buah banana boat dapat dinaiki maksimal enam org. Suasana sejuk dan pemandangan perbukitan di sekeliling waduk yg mempesona akan membuat wisatawan betah berlama-lama di sana. “Desa Kumejing benar-benar memiliki potensi alam melimpah. Tak hanya waduk saja namun juga kesenian dan kulinernya yang khas yakni bucu pendem, jadi daya tarik sendiri yang layak jual,” ujar Ketua HPI Wonosobo, Salim Bawazir.

Menurut dia, wisata alam Pesona Kumejing bisa menjadi destinasi wisata favorit setelah Dieng. Pengelola perlu membuat agenda rutin setiap tahun guna menarik lebih banyak wisatawan. Saat ini jumlah pengunjung yang datang setiap pekannya sekitar 200 orang. Mereka rela mengantre untuk menjajal wahana banana boat ini. Kami akan berupaya menambah lagi jumlah fasilitas banana boat tersebut.

Kepala Desa Kumejing Endar Aditria Kurniawan menyebutkan, dalam penyambutan para tamu yang datang rombongan, biasanya akan disajiikan kuliner khas Desa Kumejing, bucu pendem. Bucu pendem terbuat dari nasi putih dicampur sayuran dengan bentuk menyerupai nasi tumpeng, namun bedanya ada ingkung atau daging ayam yang dipendam di dalam nasinya. Rasanya asin manis dan menggoyang lidah. Ini yang membuat nasi bucu pendem mempunyai cita rasa khas di lidah para penikmatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *