Sebelum Lahir Ditinggal Pergi Ayah, 20 Tahun Lebih Lumpuh Akibat Radang Sendi

by -27 views

WONOSOBOZONE – Derita tak berkesudahan, kalimat pendek itu mungkin tepat dialamatkan kepada Ismawati (36). Perempuan warga RT 4 RW 3 Kampung Sumberan Selatan, Kelurahan Wonosobo Barat itu sudah lebih dari 20 tahun harus menjalani hari-hari nya dalam kelumpuhan akibat penyakit radang persendian kronis, alias rheumatoid artritis. Kini, Ismawati yang tinggal bersama ibundanya Sri Rohasiah di rumah tak layak huni, hidup mengandalkan belas kasihan tetangga di lingkungannya. “Kalau untuk pengobatan sudah ditanggung oleh BPJS dan selama setahun ini juga menjalani rawat jalan di Rumah Sakit Margono Purwokerto dengan bantuan dari BMT Marhamah dan BMT Al Huda,” tutur Sri Rohasiyah saat menemui penggiat Sosial Agus Purnomo dan sejumlah Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang menyambangi rumahnya pada Senin (2/4/2018). Sri Rohasiyah yang awalnya berprofesi sebagai buruh cuci mengaku sudah pasrah terhadap nasib yang menimpa ia dan anaknya. “Permintaan sebagai buruh cuci di rumah tetangga sekarang juga sudah jarang saya terima karena banyak yang sudah memiliki mesin cuci sendiri,” imbuh Sri.

Nasib malang mereka, dituturkan Sri sudah diawali sejak usia kandungan Ismawati ia jalani 7 bulan. Pada usia kandungan belum genap 7 bulan, Sri mengaku tiba-tiba suaminya yang bernama Iswardi pergi dari rumah tanpa pamit. “Suami saya asli Padang, Sumatera Barat dan sampai hari ini tidak pernah berkirim kabar sejak pergi meninggalkan rumah,” ungkapnya. Baik ia maupun anaknya, diakui Sri sangat merindukan kehadiran Iswardi dan selalu berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan kepadanya. Di rumah sempit seluas hanya 3 x 6 meter persegi itu, Ismawati diakui Sri juga sangat jarang tidur karena sering didera rasa nyeri berkepanjangan. Radang sendi yang menyerang anaknya, menurut Sri juga membuat jari-jari kaki dan tangannya memendek. Pun demikian, Sri menyebut anaknya masih berupaya untuk bekerja di salah satu pusat pernbelanjaan di Kota Wonosobo yang kini sudah tutup karena ijin kontrak dengan Pemerintah Kabupaten tak lagi diperpanjang. “Sempat dulu bekerja di Rita Swalayan karena pihak perusahaan memiliki kebijakan untuk menerima difabel sebagai karyawan, namun sekarang sudah tidak lagi setelah toko nya tutup,” bebernya.

Melihat kondisi Ibu dan anak tersebut, aktivis sosial Agus Purnomo mengaku sangat prihatin. Kedatangannya bersama para TKSK dalam rangka menyalurkan bantuan dari sejumlah donatur, menurut Agus juga demi meringankan beban kehidupan mereka. “Jelas ini sangat layak kami berikan bantuan dan memang layak untuk mendapatkan pendampingan karena kondisi mereka berada dalam keterbatasan,” tutur Agus. Bersama para relawan sosial dan TKSK, Agus mengaku akan berupaya untuk dapat mempertemukan Ismawati dan Ibunya dengan sang ayah. “Mungkin kami akan berusaha menghubungi salah satu stasiun televisi Nasional agar kehilangan sosok ayahnya dapat difasilitasi untuk pencariannya,” lanjut Agus.

Koordinator TKSK Kabupaten Wonosobo, Tri Purwanto juga menyebut pihaknya mendapat laporan perihal kondisi Ismawati dan Sri Rohasiyah dari masyarakat Sumberan. “Selama ini bu Sri dan Ismawati ini belum mendapatkan dana asistensi sosial sehingga setelah ini kami akan berupaya agar kedepan mendapatkan dana asistensi untuk meringankan beban kehidupan mereka,” pungkas Tri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *