Cegah Penularan TB Dengan Etika Batuk

by -175 views

WONOSOBOZONE – Setelah India, Indonesia berada di peringkat kedua terbanyak yang penduduknya mengidap penyakit Tuberculosis (TBC). Sementara di Wonosobo, hitungnya berdasarkan resiko penduduk yakni terdapat sedikitnya 1442 per tahun perseratus ribu penduduk atau baru 60 persen pengidap TBC. Padahal target nasional harus menemukan minimal 85 persen. Terkait dengan hal tersebut bagian sepasialis paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Setjanegara, Kab. Wonosobo, dr. Kenyorini menggelar kampanye TB Day bertajuk temukan TBC, obati sampai sembuh mengajak masyarakat berobat, dan mengajak masyarakat memilih pemimpin yang mampu menekan angka penderita TBC. “Versi Orgsanisasi Kesehatan Dunia (WHO), kita berada di urutan kedua terbesar. Oleh karena itu, TB Day kemarin yang jatuh pada 24 Maret kita jadikan momentum untuk memberantas TBC dengan berbagai rangkaian kegiatan,” ungkap dr Kenyo di sela sosialisasi TB dengan ratusan pengunjung RS di ruang tunggu RSUD Setjonegoro Kab. Wonosobo, Selasa (27/3).

Menurut Kenyo, Kemenkes menarget 2030 warga indonesia bebas TBC. Maka semua stakeholder, lanjutnya, baik itu ormas maupun masyarakat luas harus berpartisipasi dalam penanganan penyakit tersebut dan diminta untuk awarness, karena angkanya semakin tinggi. “Penderita TBC itu banyak, bersembunyi, mereka datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi sakit, pada awal sakit tidak masuk ke rumah sakit, ini jadi sumber penular,” bebernya. Kenyo menambahkan, gejalanya TBC bisa dilihat dari batuk selama dua minggu, demam, penurunan berat badan dan keringat malam hari. Apabila sudah ada ciri-ciri tersebut, Kenyo menghimbau kepada warga untuk segera memeriksakan diri. Jangan anggap remeh batuk biasa.



TBC termasuk kategori penyakit menular. Pola penularannya melalui drop tap atau percikan dahak yang mengandung kuman. Penularan bisa terjadi kepada siapa saja dari semua usia dan golongan. “Untuk penderita yang sudah terkena maka harus melakukan etika batuk, gunakan masker, saat batuk tutup dengan tisu atau tutup dengan lengan tangan kanan,” ungkapnya.

Sedangkan untuk penanganan bagi penderita TBC, pemerintah memberikan obat gratis, yang harus diminum selama enam bulan berturut-turut, dimana dua bulan dilakukan setiap hari setelah itu seminggu tiga kali. “Kalau penanganan tepat dan mengikuti anjuran dokter, penderita TB bisa sembuh total,” ucapnya.

• Wonosobo Nominasi Memprihatinkan di Level Provinsi

Sementara Kepala RSUD Setjanegara Wonosobo, dr. Muhammad Riyatno menyebut penderita TBC di Wonosobo masuk dalam peringkat yang memprihatinkan di level Provinsi. Karena, pada tahun 2017, penderita TBC di Wonosobo meningkat dibanding tahun sebelumnya. “Kemarin di tahun 2016 sudah ketemu 43 persen. Nah sedangkan tahun ini sudah ketemu 60 persen dari estimasi sasaran 100 ribu orang. Berarti sudah banyak sekali itu. Maka harus segera ditangani, paling tidak dengan langkah awal melakukan pencegahan paling dasar, yakni menerapkan etika batuk bagi siapa saja yang sedang batuk,” kata Riyatno.

Selain penerapan etika batuk, Riyatno juga mengaku pihaknya melakukan upaya pemberantasan berupa edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat baik berupa dialog maupun seminar tentang TB, dengan mengajak beberapa instansi terkait. Selain itu, lanjutnya pembentukan kader TB di berbagai organisasi seperti TP-Care Aisyiyah dengan tujuan untuk mensukseskan program penegahan TB. “Kami berusaha menyebarluaskan kemasyarakat bahwa dampak dari penyakit TBC ini sangat luas, terlebih kebanyakan menyerang umur produktif. Oleh karena itu, berbagai upaya akan terus kami gencarkan untuk mencegah maupun menangani TBC,” pungkasnya. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *