Angkutan Ramah HAM Penuhi Keinginan Penyandang Tuna Rungu

by -104 views

WONOSOBOZONE – Keinginan para penyandang tuna rungu untuk menggunakan angkutan umum yang dapat mengakomodasi kebutuhan mereka, akhirnya terpenuhi. Hal itu dipastikan setelah Bupati Wonosobo, Eko Purnomo meresmikan operasional angkutan umum Ramah Hak asasi Manusia (HAM) di sasana adipura kencana, Senin (15/1). Bupati dalam sambutannya mengungkapkan  apresiasi kepada komunitas tuna rungu Wonosobo (KTRW) yang gigih memperjuangkan hak mereka dan bersyukur akhirnya pihak Pemkab melalui Dinas Perhubungan dengan didukung para pengusaha angkutan, mampu mengakomodasi keinginan tersebut, menjadi sebuah kebijakan.


 “Ungkapan apresiasi dan terima kasih kami atas prakarsa dari komunitas ini kami dorong menjadi kebijakan di bidang perhubungan, yaitu pencanangan bel lampu pada angkutan kota,” ucap Bupati. Bel lampu tersebut, menurutnya bertujuan untuk memudahkan baik bagi penyandang disabilitas secara khusus dan masyarakat secara umum, sebagai penanda dari penumpang kepada pengemudi ketika ingin berhenti di suatu tempat. Meski disebutnya hanya langkah kecil kedepan Eko meyakini langkah tersebut dapat dikembangkan. 


“Kami sudah menginstruksikan jajaran Dinas Perumahan, kawasan pemukiman dan Perhubungan untuk segera mewujudkan program tersebut, dan harus menjadi rencana kerja maupun renstra dinas secara jangka menengah,” tegasnya. Termasuk di dalam rencana itu, Bupati juga menetapkan persyaratan bel lampu dalam uji kendaraan angkutan kota, sekaligus pelatihan dan edukasi bagi semua awak  angkutan tentang prinsip ramah HAM bagi pengguna angkutan. Ke depan, Eko juga menandaskan bakal merencanakan agar halte angkutan kota lebih layak dan ramah bagi peyandang disabilitas. Langkah tersebut, diakuinya perlu perjuangan dan komitmen bersama termasuk dari jajaran legislatif, karena sekaligus akan melakukan perombakan terhadap sistem angkutan umum dan rekayasa lalu-lintas di Wonosobo.


Dari pihak KTRW, Adi Purwoko selaku ketua pantos mengaku gembira akhirnya kebutuhan rekan – rekannya dapat dipenuhi. Upaya untuk dapat menggunakan angkutan umum ramah HAM,  disebut Adi berawal dari curhatan beberapa teman Tuli/Tunarungu yang sering kali pergi ke kota atau pulang ke desa. “Mereka mengeluh karena sering mengalami kesalahpahaman dengan sopir apabila mereka tiap kali pulang/berangkat dengan kendaraan angkot jurusan Wonosobo – Kertek dan Wonosobo – Garung, bila berhenti pada tujuan yang dituju seringkali salah tujuan berhenti karena para sopir angkot tidak mengerti maksud apa yang disampaikan oleh teman Tunarungu/Tuli,” jelas Adi. 

Sering mendengar curhatan teman-temannya, akhirnya timbul pikiran untuk mencari solusi bagaimana bila beberapa angkot di Wonosobo sebaiknya dilengkapi dengan  bel lampu sebagai tanda berhenti apabila dipencetkan. Lampu sebagai isyarat pemberitahuan berhentinya mobil sesuai tempat yang dituju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *