Semua Sekolah Diarahkan Jadi Ramah Anak

by -234 views

WONOSOBOZONE – Kian tingginya angka kekerasan terhadap anak menuntut orang tua untuk bersikap lebih protektif. Terlebih, dari 1.000 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi sepanjang 2016 silam, ternyata 84 % diantaranya justru terjadi di sekolah. Asisten Pembangunan Setda, Sumaedi mengungkap fakta tersebut ketika mewakili Bupati menyampaikan sambutan dalam acara launching sekolah ramah anak (SRA), di SD Negeri 1 Pecekelan Kecamatan Sapuran, Selasa (19/12). “Hasil Riset dari International Center For Research On Women (ICRW) pada bulan Februari menunjukkan data mencengangkan, dimana angka kasus kekerasan anak di sekolah pada Tahun 2016 di Indonesia mencapai 84 %, atau lebih tinggi dibanding Vietnam (79%) dan Kamboja (73%),” ungkap Sumaedi.

Di Kabupaten Wonosobo, kondisi hampir serupa diakui Sumaedi juga masih terjadi, dimana dari data yang tercatat pada Tahun 2015 muncul kekerasan terhadap anak sebanyak 71 kasus. “Mengingat hal itulah, adanya launching Sekolah Ramah Anak tingkat Sekolah Dasar ini kami sangat apresiatif dan mendukung sepenuhnya,” lanjutnya. SRA, dikatakan Sumaedi tidak hanya untuk mendukung pembangunan terkait pemenuhan hak-hak dasar anak sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 yang menjamin hak anak untuk dapat tumbuh dan berkembang serta berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabatnya. Keberadaan Sekolah Ramah Anak, diharapkan Sumaedi juga akan semakin menguatkan komitmen dan pemahaman seluruh elemen pendidikan akan pentingnya prinsip-prinsip perlindungan anak ke dalam penyelenggaraan pendidikan. “SRA saya harapkan juga mampu meningkatkan keterlibatan anak-anak dalam pengambilan keputusan, pembelajaran yang aktif, menyenangkan dan interaksi yang positif antara guru dan siswa di sekolah, serta keterlibatan langsung orang tua dan masyarakat,” tandas Sumaedi.

Harapan tersebut selaras dengan tujuan dari launching SRA, yang menurut Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DPP PPPA dan KB), dr. Okie Hapsoro adalah demi memenuhi keinginan anak untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman ketika mereka menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah. Untuk Kabupaten Wonosobo, Okie menyebut sudah ada 32 sekolah, terdiri dari 16 sekolah dasar dan 16 sekolah menengan Pertama (SMP) yang memenuhi standar kelayakan sekolah ramah anak. “Ke depan kita akan berpaya menjalin koordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga maupun Instansi lain untuk mengarahkan semua sekolah agar menjadi sekolah ramah anak,” tegas Okie.

Senada, Ketua TP PKK Kabupaten Wonosobo Ny Fairuz Eko Purnomo juga berharap seluruh stakeholders pendidikan bersama-sama mengembalikan sekolah ke fungsi utama sebagai tempat belajar serta mewujudkan Sekolah Ramah Anak. “Tentunya juga harus di dukung melalui komitmen serta tanggung jawab dari kita semua mulai dari pemerintah, orang tua, para penggiat organisasi-organisasi kemasyarakatan, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat, untuk mengintegrasikan serta mengaktualisasikan pembangunan dengan pemenuhan hak-hak anak yang terencana secara menyeluruh serta berkelanjutan,” tutur Fairuz. Kepada masyarakat Wonosobo, perempuan yang akrab disapa Bu Ve itu juga mengajak untuk terus memotivasi anak-anak dengan menciptakan lingkungan sekolah serta membangun lingkungan masyarakat agar mereka semakin semangat dan giat belajar sehingga mampu menggali potensi dan bakatnya masing-masing demi kehidupan mereka di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *