​EduTalk dan WMBC Ajak Puluhan Brewster dan Barista Wonosobo Susuri Sejarah Kopi Lewat Film

by -102 views

WONOSOBOZONE – Perjalanan biji Kopi di Indonesia ternyata beriringan dengan Negara ini meretas sejarah kemerdekaannya. Setidaknya, hal itu terlihat dalam film Biji Kopi Indonesia, atau di luar Negeri ditayangkan dengan judul Aroma of Heaven, yang diputar di ruang Audio Visual Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah, Sabtu (16/12). Dalam film dolumenter penjang garapan Budi Kurniawan tersebut tergambar jelas, bagaimana kopi masuk ke Indonesia setelah dibawa oleh para pejabat dari Kerajaan Belanda, ketika mereka masih dalam masa-masa awal berupaya menguasai Nusantara, atau di sekitar Tahun 1700. “Pemutaran film ini mengawali rangkaian pre even Wonosobo Manual Brews Competition (WMBC), sekaligus mengajak para Pecinta Kopi Wonosobo untuk mengenal serta menyusuri sejarah kopi di Indonesia,” terang Wening Tyas Suminar, pendiri komunitas Mbakyu Blogger dan program EduTalk yang digandeng panitia WMBC sebagai mitra untuk memperkenalkan even kompetisi seduh kopi manual 2018.

Melalui film yang pernah menyabet penghargaan internasional sebagai Best Editing Award Ahvaz International Science Film Festival di Iran pada 2015, dan sebagai Best Documentary Award Hainan International Maritime Silk Road Film Festival di China pada 2015 tersebut, Wening juga menuturkan tujuan utama EduTalk adalah untuk memberikan pemahaman baru bagi para pelaku industri kopi, maupun pecinta minuman beraroma khas yang mengikuti acara itu, secara lebih mendalam. Pemahaman terhadap sejarah, serta bagaimana beragam jenis kopi yang ada di Indonesia diseduh serta dinikmati para pencintanya, menurut Wening dapat merubah perilaku para penikmat maupun brewster alias peracik kopi,  karena ternyata setiap jenis kopi dari asal yang berbeda-beda, memiliki cara berbeda pula dalam penyajiannya.

Hal itu dibenarkan oleh Sri Fatonah, Kepala Seksi Informasi Publik Dinas Kominfo yang turut diundang dalam acara nonton bareng Aroma of Heaven. Diakui perempuan penggemar kopi latte tersebut, film yang dirilis pada medio 2014 itu mampu menambah pemahamannya tentang jenis-jenis kopi dari berbagai daerah di Indonesia. “Baru tahu juga ternyata di Gayo Aceh, Kopi menjadi nadi utama kehidupan masyarakat, dan mereka para petani bahkan memiliki cara unik ketika hendak mengawinkan serbuk kopi dengan angin,” tutur Fatonah.

 Begitu pula dengan adanya kekhasan jenis kopi-kopi yang ditanam di berbagai daerah lainnya, menurut Fatonah juga memiliki keunikan yang layak diangkat sebagai kekayaan Indonesia. Wonosobo dengan geografis yang sangat mendukung, disebut Fatonah juga layak menjadi sentra kopi yang tak kalah unik. “Sejarah adanya jalur kereta api masa di masa kolonial Belanda ketika menduduki Wonosobo, juga tak dapat dilepaskan dari tumbuh suburnya kopi di kawasan Slukatan, Mojotengah,” beber Fatonah. Ia berharap kerjasama antara anak-anak muda di WMBC dengan komunitas Mbakyu Blogger, akan mampu mendorong industri kopi Wonosobo bangkit kembali sehingga berefek positif bagi kesejahteraan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *