Cegah Import, Wonosobo Kembangkan Tanaman Hias Varietas Baru 

by -71 views

 

WONOSOBOZONE -.  Kebutuhan import tanaman hias varietas unggul masih terbilang tinggi, total mencapai US$ 10 juta. Sehingga dengan adanya produksi nasional, bisa di kembangkan untuk menekan angka tersebut. Hal ini terwujud berkat jalinan kerjasama dipusat-pusat kawasan produksi dari varietas tanaman hias tersebut. Namun di balik itu nilai ekspor yang tercatat saat ini cukup tinggi pula yang mencapai US$ 20 juta. Demikian dikatakan Kepala Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Rudy Soehendi dalam acara Sosialisasi Forum Kerjasama Lintas Kawasan Florikultura, di pendopo Bupati Wonosobo Rabu (22/11).

 

Menurutnya di Wonosobo sendiri, perlu perbaikan dan perkambangan florikultura baru untuk menggantikan tanaman hias varietas unggul yang lama yang sudah mulai terdegradasi. Karena wilayah ini memiliki potensi luar biasa dengan kekayaan ragam varietas tanaman hias yang ada, yang bisa dipilih untuk dikembangkan. “Seperti petani florikultura dari wilayah Garung misalnya, perlu perbaikan varietas yang sudah lama yang mungkin mulai terdegradasi”.

 

Sementara itu Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikana Kabupaten Wonosobo Abdul Munir mengatakan salah satu komoditas pertanian yang prospektif tumbuh subur di Kabupaten Wonosobo adalah Holtikultura, khususnya jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun tanaman hias juga menjadi komoditas potensial untuk dikembangkan, hal itu terlihat dari produksinya yang mengalami peningkatan yang signifikan tiap tahunnya.

 

Di sampaikan Munir, peningkatan tersebut secara terperinci terdapat pada tanaman hias jenis mawar pada tahun 2013 produksinya mencapai 63.882 batang sedangkan pada tahun 2014 meningkat menjadi 68.432 batang, dan pakis yang pada tahun 2013 produksinya mencapai 172.000 batang pada tahun 2014 meningkat menjadi 180.370 batang, sedangkan produktivitas tertinggi tanaman hias didominasi oleh krisan yang mengalami peningkatan produksi 100% lebih, dimana pada tahun 2013 produksinya mencapai 742.589 batang, pada tahun 2014 meningkat menjadi 1.651.810 batang.

 

“Kami berharap nantinya apabila potensi tersebut dikembangkan lebih serius, bukan tidak mungkin budidaya dan agribisnis tanaman hias bisa menjadi alternatif di sektor pertanian. Karena peluang pasar ekspor tanaman hias masih sangat terbuka lebar, dimana ekspor Indonesia hanya baru mampu memenuhi 0,04% dari kebutuhan dunia dan hanya mampu menduduki peringkat ke-51 pemasok tanaman hias”, tambahnya.

 

“Dengan melihat kebutuhan tanaman hias di dalam negeri yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu serta besarnya minat masyarakat terhadap tanaman hias, membuka peluang untuk pengembangan usaha di bidang tanaman hias,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *