10 Tahun Perpus Desa Srikandi, Bina Warga Sekitar Hingga Hasilkan Produk

by -76 views

WONOSOBOZONE – Berawal dari dibentuknya perpustakaan secara mandiri dengan belasan buku oleh Eko Hastuti pada bulan April tahun 2005 lalu, kini perpustakaan yang dinamai Srikandi itu telah memiliki ribuan koleksi buku. Di awal terbentuknya, perpustakaan desa yang berada di perumahan Manggisan Asri, Kelurahan Andongsili kecamatan Mojotengah tersebut mengandalkan dari koleksi pribadi dan sumbangan warga sekitar. Namun dengan kiprahnya yang cukup massif dan menggerakkan perekonomian setempat, Srikandi akhirnya mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak termasuk instansi pemerintah hingga mendapat prestasi di tingkat Provinsi.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tersebut ternyata berawal dari gagasan jemput bola, untuk menjaring minat baca. Yakni dengan membagikan buku pada tiap acara rutin ibu-ibu maupun RT-RW. seperti pertemuan PKK dan akhirnya menjadi seperti saat ini.

“Di tahun 2006, perpustakaan Srikandi mendapatkan predikat sebagai perpustakaan desa terbaik di tingkat Provinsi dan sejak saat itu banyak sekali kunjungan dari berbagai instansi. Termasuk perpustakaan dari luar daerah maupun mahasiswa yang hendak melakukan penelitian. Namun saat ini mungkin tidak seramai 10 tahun lalu tetapi masih ada kegiatan kumpul rutin yang banyak diikuti ibu-ibu dan anak-anak di lingkungan perumahan dan satu RW.” Kata Eko Hastuti yang sehari-hari mengajar di SMPN 1 Wonosobo, kemarin (25/1).

Donasi yang diterima Srikandi tidak hanya berupa buku bacaan, tetapi juga berupa majalah maupun tabloid dan juga sumbangan dari para mahasiswa yang melakukan KKN di Kelurahan Andongsili. Bahkan setiap tahunnya, Srikandi menjadi basecamp para mahasiswa tersebut saat melaksanakan koordinasi.

“Awalnya kami memberdayakan warga, terutama ibu-ibu setempat untuk membuat olahan dari berbagai potensi lokal. Diantaranya sambel pecel, telor asin, peyek, bahkan juga bikin pupuk organic yang dijual baik di sini maupun dititipkan ke warung-warung. Itu semua berawal dari buku-buku yang ada di Srikandi. Bahkan kami juga mengadakan iuran rutin dan diwadahi di koperasi kecil-kecilan,” ungkapnya.

Seluruh buku koleksi perpustakaan sudah di data dan dikatalog berdasarkan jenisnya dan ditata agar mudah dicari. Selain itu, di kegiatan rutin, perpus Srikandi juga kerap mengadakan bedah buku maupun membahas materi tertentu.  Namun animo membaca warga dikatakan Eko tidak setinggi beberapa tahun lalu. Hal itu dimungkinkan karena adanya berbagai media seperti internet dan medsos yang cenderung digandrungi para pelajar bahkan orang tua.

“Awalnya tidak seperti ini, bangunan masih semi permanen. Kemudian ada bantuan setelah menjadi juara itu dan jgua mendapat bantuan berupa rak dan sebagainya. Harapan kami, warga kembali gemar mengunjungi Srikandi agar minat baca masyarakat kembali menggugah untuk memunculkan produk-produk kreatif,” pungkasnya.

Menurut Arum Melawati salah satu pengunjung yang jugam ahasiswa Unsoed, perpustakaan tersebut dinilai cukup lengkap dan nyaman. Bahkan menjadi tempat yang cocok untuk belajar maupun berkumpul anak-anak.

“Semoga bisa diramaikan tidak hanya ibu-ibu, tetapi juga semua warga di sini, mengingat kelengkapan buku dan fasilitasnya sangat bagus. Terlebih ada ruangan yang bisa digunakan untuk belajar. Tidak heran banyak mahasiswa yang betah KKN di sini,” ungkapnya saat mendampingi kunjungan dari siswa SMPN 1 Wonosobo kemarin (25/1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *