Jalan Alternatif Balekambang-Karangrejo Rusak Parah

by -177 views

WONOSOBOZONE – Jalan alternatif yang menghubungkan Desa Balekambang dengan Karangrejo kondisinya sangat memprihatinkan. Sepanjang 20 meter lebih, aspal jalan mengalami kerusakan yang parah pada jalan menurun. kondisi aspal yang sudah mengelupas dan menyisakan bebatuan terjal dan bercampur tanah yang sangat membahayakan pejalan kaki terutama pengendara sepeda motor. Tidak sedikit warga yang terpleset dan terjatuh saat melintas karena  ada sisa-sisa material longsor yang menyatu dengan badan jalan. Kondisi itu semakin parah ketika turun hujan dengan intensitas tinggi. Mengingat saat ini curah hujan di Kabupaten Wonosobo sedang cukup tinggi yang diperkirakan berlangsung hingga awal tahun 2018 mendatang.

Kepala Desa Balekambang, Anteng Sunyono mengatakan, “sebenarnya jalan itu merupakan wewenang Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Wonosobo. Pada Awal tahun 2017 lalu pihak kami sudah mengusulkan kepada DPRD untuk dilakukan perbaikan dan sudah disanggupi. Kendati demikian, tidak bisa langsung diperbaiki karena akan dimasukkan kedalam perubahan APBD tahun 2017 terlebih dulu. Sampai sekarang hanya sebatas dilakukan pengukuran jalan oleh petugas tanpa ada tindakan lebih lanjut,” katanya. Anteng juga menyebutkan bahwa perbaikan jalan antardesa tidak bisa menggunakan dana Transfer Desa (DTD) karena tidak sesuai dengan peraturan daerah (perda) maupun peraturan Bupati (perbup).

Jalan yang statusnya milik Pemerintah Kabupaten Wonosobo ini sudah satu tahun lebih dibiarkan begitu saja. Meskipun sebagai akses alternatif warga namun perannya sangat vital bagi aktivitas warga Balekambang dan sekitarnya. Pasalnya, warga lebih memilih jalan ini karena dinilai lebih dekat untuk menuju Desa Balekambang yang terdapat beberapa sekolah dan juga memiliki infrastruktur Desa yang lebih baik. Daripada harus lewat jalan utama yaitu Jalan Selomerto-Kertek yang justru memiliki jarak tempuh yang lebih jauh. Setiap pagi jalan ini ramai dilalui warga, pelajar dan beberapa warga luar desa yang umumnya mengendarai sepeda motor. “sebenarnya saya itu takut lewat sini mas, takut jatuh. Malah saya juga sering kepleset tapi tidak sampai terjatuh dari motor. Tapi mau gimana lagi daripada lewat jalan utama malah muter jauh,” kata Nadia (18) salah satu murid SMA N  1 Selomerto.

Tidak hanya itu, sekitar pukul 03.00 pagi mobil colt yang mengangkut sayuran dan buah-buahan yang hendak menuju pasar pagi sudah hilir mudik lewat jalan ini. Meskipun minim penerangan dan hanya mengandalkan lampu kendaraan, sopir-sopir mobil itu nekat lewat jalan alternatif ini karena dirasa lebih dekat. Kastamer (65) warga sekitar yang setiap hari berjalan kaki menuju pasar Balekambang juga mengaku harus ekstra hati saat lewat jalan ini karena kondisi jalan yang berbatu dan bercampur tanah.

Sering Longsor
Selain kondisi jalan yang rusak parah tepat pada posisi turunan dan juga minim penerangan, jalan alternatif penghubung desa Balekambang-karangrejo ini juga sering terjadi longsor. Sebelah kanan jalan dari arah desa Balekambang, terdapat tebing setinggi 10 meter yang ditumbuhi beberapa pohon besar. Wahyono (37) warga Rt.13 Rw.03 Balekambang yang rumahnya hanya beberapa meter dari lokasi jalan yang rusak tersebut mengaku “setiap pagi saya lewat sini untuk mengantar anak saya sekolah sekalian berangkat kerja. tapi itupun harus pelan-pelan sekali mengendarai motornya, soalnya kalau lengah dan salah memilih pijakan roda motor sedikit saja bisa tergelincir ketanah ataupun terperosok jatuh ke jurang. Beberapa waktu lalu pernah terjadi longsor, sebelum tanah bergerak turun kebawah ada sebuah mobil yang nyaris terperosok ke jurang setinggi 5 meter karena berusaha menghindari material longsor,” bebernya kepada Suara Merdeka.

Wahyono dan warga sekitar berharap untuk pihak terkait agar jalan ini secepatnya diperbaiki. Mengingat akses alternatif warga ini sangat membantu aktivitas sehari-hari. Terutama diberi lampu dan juga pembatas jalan untuk mengantisipasi agar kendaraan tidak terperosok di jurang saat hari sudah gelap. Untuk saat ini hanya ada dua lampu, satu diujung atas dan satu di ujung bawah jalan. Lampu yang terpasang itu atas inisiatif warga yang rumahnya paling dekat dengan lokasi. Jika dibiarkan terus akan berbahaya bagi pengguna jalan. (SM-WSB/Rizal)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *