Mengunjungi Rumah Singgah Jenderal Sudirman Di Desa Bojasari Kertek

by -191 views

Tahun 1947 Digunakan Sebagai Markas Komando Perang Gerilya, Kini Diusulkan Jadi Pusat Edukasi Sejarah

WONOSOBOZONE – Kisah heroik perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman dalam upayanya membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan Belanda begitu lekat dalam ingatan setiap warga Negara ini. Dengan taktik perang gerilya yang diterapkannya, Jenderal Sudirman mampu membuat Belanda kalang kabut hingga pada akhirnya harus angkat kaki dari Bumi Pertiwi. Namun demikian, tidak banyak orang tahu kalau di balik kisah sejarah taktik perang gerilya Jenderal kelahiran Purbalingga tersebut, ternyata Wonosobo pernah menjadi bagian penting di dalamnya. Sebuah rumah sederhana di RT 5 RW 2, Desa Bojasari Kecamatan Kertek, telah diakui Pemerintah RI sebagai salah satu rumah persinggahan Jenderal Sudirman di masa perjuangannya mempertahankan kemerdekaan Negara ini, sepanjang Tahun 1947-1948. Jumat (27/10) lalu, sesepuh sekaligus penasehat Himpunan Pramuwisata Indonesia , Agus Purnomo mengajak komunitas Wonosobo Herritage untuk mengunjungi rumah bersejarah tersebut.

Rumah dengan luas bangunan mencapai 335 meter persegi itu, kini dihuni oleh Priyanto (45) bersama sang istri, Menik Widyaningrum (40) dan anak semata wayangnya, Adriyanto Riski Pratama (12). Kepada tetamunya, Priyanto menjelaskan perihal sejarah rumah yang dibangun pada Tahun 1943 itu, hingga kemudian mendapat pengakuan dari Pemerintah RI sebagai benda cagar budaya bersejarah. Menurut Priyanto, awal dibukanya kisah sejarah tersebut berasal dari cerita almarhum ayahnya, Cipto Utomo kepada Sukanto, kakaknya yang juga menjadi ahli waris rumah. Almarhum Cipto Utomo, diungkap Priyanto Lurah sekaligus tokoh di Desa Bojasari pada Tahun 1947. Karena kecintaannya kepada Negara, Cipto Utomo kemudian bergabung dengan Kompi Kapten Kambali sebagai Kepala Pengadaan Logistik, serta merelakan rumah kediamannya sebagai markas komando pasukan yang tergabung dalam Komando Divisi III/Diponegoro di bawah pimpinan Kolonel R Soesalit. “Sangat disayangkan, Kapten Kambali yang dikenal sangat piawai dalam mengatur strategi perlawanan kepada penjajah akhirnya tewas pada saat penghadangan konvoi tentara Belanda,” tuturnya.

Perjuangan Cipto Utomo beserta pasukan, menurut Supriyanto tetap berlanjut hingga kedatangan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang kemudian memutuskan untuk singgah selama hampir setahun di rumah tersebut. Dalam masa konsolidasi perjuangan, rumah yang pernah dipugar atas perintah Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono pada Tahun 2011 itu, juga pernah disinggahi Jenderal Sudharmono, mantan Wapres RI, serta Jenderal Sarbini. Kesimpulannya, rumah tersebut dikatakan Supriyanto pernah memiliki perang sangat strategis, yaitu sebagai pusat konsolidasi Jenderal Sudirman dengan para pimpinan tinggi militer pada masa itu.

Kakak saya, Sukanto sebagai ahli waris utama memperjuangkan untuk dapat diakui sebagai Benda Cagar Budaya, dan telah memperoleh surat penghargaan dari Bupati Wonosobo pada Tahun 1997,” jelasnya. Melalui surat penghargaan yang ditandatangani Bupati Drs Margono itu, rumah tersebut diakui sebagai Markas dan Asrama tentara pejuang kemerdekaan Republik Indonesia Kompi IV di bawah pimpinan Kapten Kambali dari Kesatuan Batalyon IV, Mayor Tjipto Widuro, Resimen 17 Pekalongan, Letkol Wadiono, Brigade Nusantara Letkol Iskandar Idris, Divisi III Diponegoro, Kolonel R Soesalit. Surat itu, menurut Priyanto kemudian diperkuat dengan SK Bupati Wonosobo Nomor 433/ 283/ 2013 tentang Penetapan Rumah Mengandung Nilai Sejarah di Kabupaten Wonosobo yang ditandatangani Drs Trimawan Nugrohadi.

Melihat fakta-fakta sejarah yang telah juga telah diakui secara resmi oleh pemerintah itu, Penasehat HPI Wonosobo, Agus Purnomo menyebut rumah itu layak untuk dijadikan rujukan sejarah otentik bagi generasi muda. “Pemerintah Daerah, dalam hal ini melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata selayaknya menjadikan rumah ini sebagai pusat edukasi sejarah, khususnya mengenai perjuangan Jenderal Sudirman,” terang Agus. Kesediaan pihak keluarga untuk membuka rumah menjadi semacam museum perjuangan, diakui Agus juga layak diapresiasi karena nantinya generasi muda, terutama para pelajar menjadi lebih paham, bagaimana alur perang gerilya Jenderal Sudirman sehingga mampu mengusir penjajah Belanda dari Indonesia. Senada dengan Agus, Andika Dwi Nugroho dari Komunitas Herritage Wonosobo juga menilai perlunya pemerintah mendorong terwujudnya rumah milik Sukanto itu sebagai pusat edukasi sejarah. “Dari sisi sejarah, hingga umur bangunan yang telah melebihi 50 tahun serta perannya dalam perjuangan kemerdekaan, kami menilai rumah ini layak dikembangkan lebih lanjut, sehingga nantinya siapapun yang berkunjung akan lebih memahami bagaimana beliau Jenderal Sudirman menyusun strategi perang gerilyanya,” tandas Andika.

0 thoughts on “Mengunjungi Rumah Singgah Jenderal Sudirman Di Desa Bojasari Kertek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *