Stok Minim, Harga Ayam Kampung Merangkak Naik

by -58 views

WONOSOBOZONE – Harga daging ayam kampung di beberapa daerah pada akhir bulan Oktober 2017 dikabarkan oleh berbagai media mencapai Rp 100.000 per kilogramnya. Hal tersebut berbeda dengan yang ada di Kabupaten Wonosobo, yakni masih dalam kisaran Rp 50.000 sampai Rp 60.000 per kilogramnya. Menurut salah satu pedagang yang ada di Pasar Induk Wonosobo, Widi, harga tersebut telah merangkak naik dari bulan sebelumnya. “Pada bulan sebelumnya, harganya masih di kisaran Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per kilonya. Naiknya sekitar Rp 5.000 sampai Rp. 10.000. Karena sekarang untuk mendapatkan dagingnya dari pemasok susah,” terang Widi kepada Wartawan usai bernegosiasi dengan pembeli daging ayam kampung, Rabu (25/10)..

.
Widi menambahkan, kenaikan harga daging ayam kempung tersebut mengalami kenaikan secara perlahan dengan nominal Rp 2.000 sampai Rp 5.000 sejak pasca hari raya Idul Fitri 1438 Hijriyah. Meskipun kebutuhan harian masyarakat terhadap daging ayam kampung cukup kecil dibandingkan dengan daging ayam ras, lanjutnya, kelangkaan stok daging tersebut cukup mempengaruhi harga. “Selain karena minimnya pasokan, rata-rata juga terhambat dari sisi pengiriman. Ditambah lagi, mayoritas pemasok lebih cenderung memilih untuk memasok di pasar Kertek. Disini belum menjadi prioritas,” bebernya..

.
Minimnya stok daging ayam kampung dibenarkan oleh pedagang daging lainnya, Yani Widowati. Yani menyebut pihaknya harus memesan kepada pemasok dengan waktu yang lebih lama dari biasanya. Selin itu, kenaikan harga juga berpengaruh pada volume penjualan. “Biasanya kalau langka harga memang naik, satu ekor ayam potong hanya di kisaran 1,5 sampai 1,8 kilogram, sehingga harga per kilogramnya sangat tinggi dibanding ayam ras biasa. Apalagi kalau sudah bentuk potongan, biasanya bisa lebih mahal untuk bagian tertentu. Konsumsi pedagang juga tidak sebesar dulu. Mayoritas pemasok juga tidak siap jika ada permintaan besar, jadi harus pesan dahulu. kalau naik harga bisa mencapai Rp 5.000 per kilonya,” terangnya..

.
Untuk harga yang mencapai dua kali harga ayam ras itu dinilainya masih cukup wajar. Namun menurut Yani, tren pembiakan ayam kampung yang modern juga sudah banyak dilakukan. Bahkan kini, para peternak ayam kampung tidak harus menunggu berbulan-bulan..

.
“Kemungkinan besar ayam kampung yang di lokal wonosobo dimanfaatkan untuk petelur. Karena konsumsi sehari-hari sudah jarang. Dari sisi dagingnya yang lebih mantap dan juga harganya memang kalah, tapi ada yang masih memilih ayam kampung karena alasan kesehatan,” tambahnya.
Untuk telur ayam kampung sendiri juga biasanya mengikuti harga telur lainnya, namun selalu lebih tinggi dan dihitung per butir. Satu butir ayam kampung umumnya dibanderol Rp 2.000 dan lebih mahal sekitar Rp 500 jika dibandingkan telur ayam ras..

.
“Kalau pemasok yang nakal, biasanya telur ayam kampung sering dicampur dengan ayam arab. Susah memang dibedakan tapi kadang lebih besar dan warna kuning telurnya lebih merah dibanding ayam kampung. Sebenarnya pedagang banyak yang tahu, tapi mungkin ingin cari untung lebih karena telur ayam arab lebih murah,” pungkas Yani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *