Alat Sperro Slime Antar Tiga Siswa SMP Negeri 2 Selomerto Raih Perak Di LPSN 2017

by -105 views

WONOSOBOZONE – SMP Negeri 2 Selomerto berhasil mengharumkan nama Wonosobo di ajang lomba penelitian siswa Nasional (LPSN) Tahun 2017. Tiga siswa-siswinya, yaitu Wiwin Astuti, Naufal Daffa Dhiya’ulhaq dan Deliana Haryanti berhasil menggondol medali perak untuk penelitian mereka tentang alat pengolahan air dengan metode pembuangan lumpur otomatis. Ketika ditemui di sekolahnya, Senin (16/10), ketiga pelajar kelas VIII tersebut menunjukkan bahwa alat yang mereka ajukan dalam LPSN terinspirasi dari keinginan untuk dapat memanfaatkan air sungai sebagai alternatif air konsumsi harian. “Ide membuat alat yang kami beri nama Sperro Slime ini adalah untuk dapat menghasilkan air bersih dari melimpahnya air sungai di Wonosobo,” terang Wiwin Astuti didampingi Daffa, Deliana dan guru pembimbing ekstra kurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR), Sundari.

Sperro Slime, menurut Wiwin memiliki prinsip kerja sederhana, yaitu mengangkat air dari aliran sungai, yang umumnya berlumpur untuk kemudian diolah menjadi air bersih, dengan endapan lumpur yang dapat terbuang secara otomatis. Perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat alat tersebut, diakui Wiwin tidak sulit diperoleh, karena hanya terdiri dari 3 bak penampungan dan pengolah air, dan 2 bak untuk pembuangan lumpur dan penampungan air bersih hasil pengolahan. “Setelah diangkat dari sungai, air yang masih bercampur lumpur masuk ke bak pertama yang telah dilengkapi filter untuk menyaring lumpur, kemudian setelah terpisah dengan lumpur air mengalir ke bak kedua yang berisi filter berupa pasir dan sekam bakar,” urai Wiwin lebih detail. Hasil dari filtrasi menggunakan pasir dan sekam itulah yang menurut Wiwin kemudian mengalir berupa air bersih yang siap digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Meski terkesan sederhana, ide awal untuk membuat alat tersebut diakui Wiwin tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika mesti memilah sekam yang bersih contohnya, Wiwin dan kedua kawannya kerap mendapat cemoohan dari teman mereka sendiri, karena dianggap iseng dan kotor. “Itu karena sekam harus dibakar terlebih dahulu,  dan kemudian masih harus dicuci sebelum dapat digunakan sebagai filter air bersama pasir,” bebernya. Proses mencuci sekam yang dilakukan Wiwin, Daffa dan Deliana yang biasa dilakukan seusai jam sekolah itulah, diakui mereka kerap mendapat cibiran. Namun hal itu, menurut ketiganya tak lantas menyurutkan niat untuk berkarya. Bahkan, menurut Daffa, ia menjadi lebih semangat untuk menunjukkan bahwa hasil karya mereka bisa menuai prestasi.

“Karya mereka awalnya kami kirim ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, untuk diikutkan lomba karya ilmiah remaja, dan ternyata mampu meraih predikat terbaik,” ungkap guru Ekstrakurikuler, Sundari. Dari keberhasilan itulah, Sundari menyebut ketiga anak itu lantas percaya diri untuk mengirim Sperro Slime, nama yang diambil dari akronim SMP 2 Selomerto dan Silme yang merupakan bahasa inggris lumpur itu, ke kancah Nasional. “Di Jakarta kami bersaing dengan 34 sekolah se-Indonesia di kategori Teknologi Terapan,” tutur Sundari. Berkat presentasi bagus disertai praktek langsung fungsi alat di depan dewan juri, Sperro Slime akhirnya mampu meraih medali perak, yang menurut Sundari merupakan medali perak dengan nilai terbaik, alias hampir mencapai medali emas LPSN.

Menanggapi keberhasilan tim KIR di LPSN 2017, Kepala SMP Negeri 2 Selomerto, Sri Puji Astuti mengaku sangat bangga dan bersyukur. “Pencapaian ini tentunya bukan menjadi tujuan akhir, karena kami masih terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMP Negeri 2 Selomerto. Namun demikian apa yang sudah diraih ini sangat positif dan saya yakini mampu melecut semangat para siswa untuk lebih giat belajar dan semakin kreatif serta inovatif,” tandas Sri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *