Pelaku Industri Rumahan Diminta Bentuk Kelompok 

by -17 views

WONOSOBOZONE – Guna memudahkan, pemerintah daerah melakukan pengawasan, pelatihan dan pendampingan usaha, pelaku industri rumahan di Wonosobo diminta untuk membentuk kelompok usaha di wilayahnya. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagyo ketika memberikan arahan kepada 180 warga Desa Ngadikusuman Kecamatan Kertek, Kab. Wonosobo di Balai Latihan Khusus (BLK) Wonosobo dalam acara Mandiri Edukasi bagi Pelaku Industri Rumahan, Jum’at (13/10). Bahkan menurut Agus, pembentukan kelompok tersebut juga memudahkan penyaluran bantuan alat produksi maupun suntikan modal usaha dari pemerintah maupun swasta. “Saat ini ada ribuan pelaku industri rumahan menjalankan aktivitas produksi. Kami dorong mereka membentuk kelompok, agar pengawasan dan pendampingan kepada mereka lebih mudah,” ungkapnya.

Menurut Agus, pihaknya telah melakukan penandatanganan kerjasama dengan Deputi Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, terkait proyek pengembangan pengembangan industri rumahan bagi perempuan di Wonosobo. “Sejak 2016, KPPPA melakukan pendampingan industri rumahan di Wonosobo, meliputi Desa Pagerejo dan Desa Ngadikusuman, Kertek,” tambah Agus

Sementara, menurut Gelar Ginanjar, Assistant Vice President Customer Care Group Bank Mandiri yang digandeng oleh KPPPA untuk sumbangsih melalui lembaga keuangannya mengaku telah membina sedikitnya 280 perempuan pelaku industri rumahan yang ada di kedua desa tersebut. “Desa Pagerejo mendapat alokasi bantuan untuk pelaku industri rumahan sebanyak 100 orang. Sebanyak 50 pelaku industri rumahan didampingi 2016, 50 pelaku industri rumahan didampingi 2017 ini. Sementara di Desa Ngadikusuman jumlah pelaku industri rumahan yang didampingi 180 orang, 100 orang didampingi 2016 dan 80 orang didampingi 2017 ini,” bebernya.

Menurut Gelar, sebagian besar produksi pelaku industri rumahan yang berada di Desa Ngadikusuman merupakan usaha pengolahan pangan. Berbagai pelatihan yang dilakukan sesuai dengan yang dibutuhkan. “Diantaranya pelatihan diversifikasi produk, pelatihan packaging atau pengemasan, pelatihan pemasaran, pelatihan pengelolaan keuangan, pelatihan sebelum pembentukan koperasi dan pelatihan klaster rengginang,” tandasnya.

Wakil Ketua Kelompok Ngadikusuman, Menuk Indriyani menyebutkan, pembentukan kelompok usaha dirasa penting dilakukan guna memudahkan kelompok memperoleh pendampingan dari pemerintah. Selain itu, adanya kelompok juga dirasa semakin memudahkan anggota mengakses permodalan melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang ditawarkan sejumlah perbankan. “Rata-rata anggota kami merupakan eks buruh migran atau TKI purna. Kami memilih membentuk kelompok usaha dan mengembangkan sektor usaha agar kesejahteraan anggota semakin meningkat. Harapan kami, dukungan pemerintah daerah melakukan pelatihan dan pendampingan kepada para TKI purna terus ditingkatkan, sehingga mereka memiliki keterampilan tambahan di dunia usaha,” pungkasnya. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *