Remaja Wonosobo Sangat Rawan Terkena Kanker Serviks

by -43 views

WONOSOBOZONE – Salah satu penyakit yang menjadi penyebab tingginya angka kematian perempuan di Indonesia yakni Kanker Serviks, bisa dicegah. Sejumlah faktor menyebabkan kasus kanker ini tinggi, termasuk hubungan seks di usia muda. Kanker Serviks atau leher rahim disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) yang mudah ditularkan, namun mayoritas terinfeksi melalui hubungan seksual. Selain menyebabkan Kanker Serviks, HPV juga menyebabkan kutil kelamin, kanker vagina, dan kanker vulva. Menurut Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan) Wonosobo, dr. Muhammad Nur Adintyorahman, menikah muda atau hubungan seksual sebelum berusia 19 tahun akan meningkatkan risiko infeksi HPV. “Di usia tersebut leher rahim belum matang. Selain itu, selaput dara juga bisa tak mampu menahan infeksi virus lewat hubungan seksual. Jadi lebih baik menikah diusia yang cukup,” terang dokter yang akrab dengan sebutan Dito saat memberikan materi di hadapan puluhan perwakilan organisasi wanita tingkat Kabupaten Wonosobo dalam Focus Group Discussion deteksi dini kanker serviks dan tindak lanjut penanganannya di aula salah satu Puskesmas Wonosobo, Kamis (4/10).

· 

Dr. Dito mengatakan banyaknya tingkat pernikahan dini di Wonosobo, yang menjadikan pihaknya harus memaparkan hal tersebut kepada para peserta yang rata-rata terdiri dari para ibu-ibu dan memiliki anak usia remaja. Selain itu, beberapa ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Wonosobo juga menjadi sasaran kritik oleh dokter yang menangani RS Ibu dan Anak Adina itu. Dito menyebut RTH yang ada di Wonosobo kerap dimanfaatkan oleh para remaja pada malam hari untuk memadu asmara. “Saat ingin mencari angin malam, saya ke salah satu RTH. Di sudut taman dengan suasana gelap, ada dua orang laki-laki dan perempuan sedang berpacaran. Ternyata setelah saya lihat masih remaja, sekitar belasan tahun. Dan itu ada banyak pasangan,” bebernya..
Namun menurut Dito, hal tersebut dapat diminimalisir dengan adanya pengawasan dari masing-masing keluarga. Karena keluarga, lanjutnya, menjadi benteng pertahanan pertama yang dapat mencegah perilaku menyimpang tersebut. “Kami juga telah berupaya untuk meminimalisir hal itu, diantaranya dengan melakukan sosialisasi secara berkelanjutan di setiap kelompok wanita. Namun hal itu tak dapat dicapai secara optimal tanpa bantuan dari seluruh pihak,” tandas Dito..
Sementara berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari salah satu Puskesmas yang ada di Wonosobo, sejak awal 2017 sampai akhir Agustus telah melakukan pemeriksaan IVA oleh 422 wanita. Dari jumlah tersebut, 55 orang divonis positif . Hal tersebut menunjukkan tingginya tingkat kerawanan penderita kanker serviks pada wanita di Wonosobo. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *