Daun Tembakau Naik, Petani Sumringah

by -123 views

WONOSOBOZONE – Pada tahun 2016, harga daun tembakau di tingkat petani hanya berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.000 per kilogram. Namun saat ini di penghujung tahun 2017, harga daun tembakau mencapai Rp 6.500 per kilogram. Hal tersebut membuat sejumlah petani tembakau yang ada di Kabupaten Wonosobo tampak sumringah. Salah satunya adalah Sumardi (46), petani asal Dusun Pagerotan, Desa Pagerejo, Kec. Kertek, Kab. Wonosobo. Sumardi mengaku senang karena harga tembakau jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. “Kalau dulu-dulu kami sering rugi, karena antara biaya pertanian dengan perolehan hasil panen tidak sebanding. Dengan meningkatnya harga daun tembakau ini, kami makin bersemangat untuk menanam dan mengembangkan pertanian tembakau. Semoga saja harga daun tetap tinggi,” ungkap Sumardi kepada Wartawan, Kamis (5/10)..

.
Tak hanya itu, menurut Sumardi, kebahagiaan tersebut kian berlipat dengan adanya pengepul tembakau yang dapat mengakomodasi biaya operasional sekaligus transportasinya. Karena saat ini, lanjutnya, sudah ada pengepul tembakau dari desa tetangga. “Kalau dulu, pengepulnya langsung dari orang Kertek. Jadi butuh biaya transportasi juga. Dan itu ditanggung oleh kami. Sekarang, tanpa harus mengeluarkan biaya operasional tambahan untuk transportasi, kami sudah bisa menikmati keuntungan,” tambahnya..


Meski harga daun tembakau naik, dilain sisi harga tembakau olahan jadi yang siap dikonsumsi malah menurun. Petani tembakau lain, Wagiyo (54) yang juga berasal dari desa Pagerejo menyebut harga tembakau olahan jadi yang siap konsumsi itu harganya berkisar antara Rp 45.000 sampai Rp 55.000 per kilogramnya. Hal tersebut menjadikan Wagiyo lebih memilih menjual tembakau dalam bentuk daun dibanding tembakau jadi. “Ya kami juga sedikit-sedikit menjual tembakau yang sudah jadi, ternyata harga sudah turun. Padahal satu bulan yang lalu harganya bisa mencapai 75 ribu rupiah per kilonya, sekarang turun jadi 50 ribu rupiah. Kalau dihitung, kami rugi menjual dengan harga segitu,” bebernya..

.
Selain harga tembakau siap konsumsi yang rendah, musim penghujan yang telah tiba juga turut mempengaruhi tanaman tembakau yang ada. Wagiyo menyebut hujan yang berkepanjangan dapat menjadikan tembakau tak mampu bertumbuh secara optimal. Bahkan pada saat panen, Wagiyo berserta tenaga petik lain harus memilih hari yang cerah. “Disini sudah satu minggu terakhir hujan terus tiap hari. Kalau ingin mendapat hasil panen yang optimal saat musim hujan begini, harus banyak di obat organiknya sebagai penguat. Itu juga butuh modal lagi. Belum lagi upah tenaga petik jadi membengkak. Jadinya tambah merugi kita nanti kalau harga tetap seperti ini,” pungkasnya. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *