Warga Dieng Gelar Tradisi Malam 1 Suro, Mandikan Keris Sebagai Wujud Tolak Bala

by -174 views

WONOSOBOZONE – Masyarakat Jawa khususnya di Dieng masih memegang teguh ajaran yang diwarisi oleh para leluhurnya. Salah satu ajaran yang masih dilakukan adalah menjalankan tradisi malam satu Suro, malam tahun baru dalam kalender Jawa yang dianggap sakral bagi masyakarat Jawa. Hal itu terlihat ketika ribuan warga Dieng memadati jalan utama kawasan Dieng di malam satu suro dengan menggelar kirab sepanjang satu kilometer yang terdiri dari atraksi anak pembawa obor, kesenian tradisional setempat, wanita berkebaya, gunungan hasil bumi, nasi tumpeng dan beberapa pusaka jawa, berupa keris. “Sebenarnya yang menjadi pokok prioritas adalah tradisi jamas (memandikan) pusaka. Kalau acara lain sebagai tradisi yang melengkapi sebuah ritual, dengan melibatkan seluruh warga,” ungkap sesepuh Desa Dieng, Haryadi di sela pagelaran tradisi malam satu suro, di Dieng, Kab. Wonosobo, Rabu (20/9)..
Pusaka berupa keris yang dimiliki sebagian tokoh masyarakat Dieng tersebut, menurut Haryadi, wajib dimandikan satu kali dalam satu tahun, yakni di malam satu suro. Karena menurutnya, pusaka tersebut memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai tolak penyakit, penerang kehidupan, memperlancar komunikasi, mencegah adanya ancaman dari luar, bahkan beberapa fungsi dibidang kesehatan, seperti membantu proses kelahiran. “Pada malam selepas pukul 19.00 WIB, kami menggelar kirab dari desa kami menuju mata air Bimolukar, dengan tujuan mengambil air untuk memandikan keris pada pukul 24.00 WIB. Setelah kirab, kami menampilkan beberapa kesenian tradisional di desa dan setelahnya melaksanakan mujahadah bersama,” jelasnya..
Haryadi menambahkan, rangkaian disetiap tradisi rutin tahunan yang telah dilestarikan tersebut, memiliki makna tersendiri, seperti tumpeng berwarna kuning, hitam dan putih. Ketiga tumpeng tersebut dipercaya memiliki filosofi berupa harapan terkait ketentraman, kesehatan dan kemakmuran. Sedangkan gunungan hasil bumi, lanjutnya, merupakan ungkapan rasa syukur yang diberikan Sang Maha Kuasa terhadap kekayaan alam yang melimpah. “Setelah agenda mujahadah bersama, kami menyajikan aneka jajan pasar yang akan dinikmati oleh seluruh warga. Makna kegiatan itu adalah untuk mendapatkan berkah, kalau kita biasa menyebutnya ‘ngalap berkah’,” tandas Hariyadi..
Sementara, Kepala Desa Dieng, Mardi Yuwono menyebut tradisi malam satu Suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, tambah Mardi, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya. “Setelah memandikan pusaka, kami bersama para sesepuh dan tokoh masyarakat lain sejumlah lima orang, berkeliiling desa, untuk mengusir aura-aura negatif yang dapat mengusik ketentraman desa kami,” terangnya..
Selain itu, menurut Kades, sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini, katanya, memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. “Sementara, waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan,” pungkas Mardi.  (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *