Mahakarya Seniman Kampung Karangsari Sapuran

by -201 views

WONOSOBOZONE – Hidup sebagai seniman di kota kecil, terlebih di kampung pinggiran, memiliki tantangan yang cukup berat. Siang malam ia berkarya, toh pun kebutuhan dapur tetap belum tercukupi. Karena sebab itulah banyak seniman yang mengganggap ‘seni’ sebatas ruang ekspresi, ruang menyalurkan bakat dan ruang berkreasi. Berharap bisa hidup dari karya seni yang dihasilkan, rasanya masih pesimistis..
Hal itu diungkapkan salah satu seniman lukis asal Wonosobo, Sulhan Amin, saat dijumpai dirumahnya Dusun Karangluas, Desa Karangsari, Kec. Sapuran, Wonosobo, Minggu (17/9). Di rumah yang sederhana, berukuran kecil dan terbuat dari kayu itu, langsung terasa seperti jika sang tuan rumah ialah seniman. Di sudut sudut tertata rapi puluhan lukisan. Sebagian digantung di dinding, sebagian lagi masih tergeletak di atas meja..
Lukisannya model lukisan realis, dia melukis sangat mirip dengan aslinya. Bahkan saking miripnya persis seperti foto. Hanya saja berwarna hitam dan putih karena ia melukis dengan pensil. “Saya suka ini, Gusdur, dan yang ini,” katanya sambil menunjuk salah satu lukisan yang tak lain adalah mertuanya sendiri..
Ia mengaku mulai gemar melukis sejak kecil. Ia belajar autodidak sampai dewasa dan berumah tangga. Meski gemar melukis sejak kecil, ia mengaku tak pernah menggantungkan hidupnya dari menjual lukisan. Sempat ada orang yang memintanya membuat lukisan kemudian memberi honor. Namun itu sesekali saja. Untuk menghidupi anak dan istri ia masih menggantungkan hidupnya dari bertani..
Ditanya berapa honor yang dihasilkan untuk satu lukisan, ia memilih bungkam. Amin menganggap uang yang diterimanya dari melukis semata apresiasi atas karyanya saja. Kendati demikian kondisinya, seni baginya sudah merupakan bagian dari hidup. Nalar seninya terus berkembang.

·   Shadow Box dan Cutting UPVC Menjadi Andalan

Belakangan ini, ia mulai serius membuat shadow box dan cutting UPVC (pralon). Pria yang akrab disapa Amin itu mengaku membuat shadow box dan cutting UPVC, rencananya untuk ditawarkan kepada pengunjung wisata Gunung Sarru yang berada di Kecamatan Kelibawang. Yang kebetulan, setahun ini ia didapuk sebagai koordinator artisnya di sana. “Saya pingin ada galery di taman Gunung Sarru. Akan kita display lukisan, cutting UPVC dan Shadow Box,” tuturnya..
Amin menambahkan, untuk cutting UPVC ia bandrol dengan harga 120 ribu rupiah sementara untuk sadow box menyesuaikan tingkat kerumitan. Adapun kisaran harga satu buah shadow box ia berkeinginan diangka 600 ribu rupiah. Karena menurut Amin, untuk membuat cutting UPVC bisa dapat 2 dalam sehari. “Sedangkan untuk satu buah shadow box paling cepat jadi 2 seminggu. Untuk saat ini baru bisa segitu, makanya saya lagi bereksperimen ini biar bisa cepat,” katanya..
Dua karyanya itu, telah diikutkan di banyak event, diantaranya di salah satu event di Jakarta tahun 2016, dan di event HUT kertek 2017. Di dua tempat tersebut karyanya mendapat sambutan antusias dari pasar. Banyak cutting UPVC dan shadow boxnya yang laku. “Kalau acaranya malam banyak yang laku. Kalau siang kita kurang. Karena kurang mencolok. Kan yang kita jual adalah keindahan gradasi cahaya,” ungkapnya..
Dia mengaku menyeriusi cutting UPVC dan shadow box mulai awal tahun 2016. Idenya muncul usai dia didapuk  sebagai koordinator artisnya Gunung Sarru.  Setelah karyanya banyak nanti dan dipajang di sekitar  kawasan wisata Gunung Sarru, Amin meyakini Gunung Sarru akan makin cantik. Lampu warna warni yang muncul dari cutting UPVC, dan gradasi warna yang dipancarkan dari shadow box akan menyambut dan memanjakan mata wisatawan yang berkunjung ke Gunung Saru. “Dengan dukungan semua pihak, semoga impian itu dapat tercapai,” pungkasnya. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *