Pondok Terbesar di Wonosobo Ini Dulu Cuma Punya 3 Santri, Kini Sudah Ribuan Santri

by -970 views

Berawal Dari 3 Santri Menjadi Ribuan Santri

WONOSOBOZONE – Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Ash’ariyah kini memiliki sedikitnya 5000 santri. Ponpes yang terletak di Kelurahan, Kec. Mojotengah, Kab. Wonosobo itu dulunya hanya memiliki 3 santri yang berasal dari Kab. Bantul dan Cirebon. PPTQ Al-Asy’ariyyah dalam mendidik para santrinya, mengkolaborasikan antara sistem Kholafiyyah (Modern) serta system Salafiyyah (tradisional), sehingga dimaksudkan untuk menciptakan keseimbangan menurut roda perputaran zaman. Sistem tersebut dikenal oleh banyak kalangan masyarakat sebagai sistem semi modern. Pada sistem pembelajarannya, PPTQ Al-Asy’ariyyah menitik beratkan pada tiga komponen sebagai ciri khasnya, yakni Al-Qur’an Al-Karim dengan Tahfidzul Qur’annya, kajian Kitab Kuning, serta penguasaan Bahasa Asing seperti Inggris dan Arab. “Dulu waktu saya mengabdi di pondok ini tahun 1963, belum ada listrik. Semua bangunan masih terbuat dari kayu berlantaikan tanah. Santrinya masih ada 3 orang. Meski santri 3 orang, pada waktu itu Al-Asy’ariyyah ini sudah mendirikan sekolah swasta berupa Madrasah Tsanawiyah (Mts) yang memiliki cukup banyak siswa. Hinga akhirnya diminta oleh pemerintah pada jamannya pak Harto untuk menjadi sekolah negeri. Akhirnya sampai sekarang menjadi MTsN Kalibeber,” ungkap Ahmad Miftah, salah satu pejuan pendiri PPTQ Al-Asy’ariyyah di ruangannya, Kamis (15/6).

Sebelumnya, pada tahun 1832, PPTQ Al-Asy’ariyyah sudah didirikan oleh Muntaha bin Nida’ Muhammad. Namun tidak dengan nama Al-Asy’ariyyah, melainkan Ponpes Abdur Rohim. Bergulir selama 3 periode secara turun temurun yang diberikan anaknya sebagai pengelola, ponpes tersebut berjuang untuk berdiri dengan segala keterbatasan. Hingga akhirnya sampai pada periode ke-4 PPTQ ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Yakni masa pengelolaan Muntaha. Kyai yang akrab dengan sebutan Mbah Mun itu mengganti yayasan dengan nama Al-Asy’ariyyah dan kembali mendirikan lembaga pendidikan formal untuk tingkat SLTP dan SLTA. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Kepenghuluan di Departemen Agama –sekarang Kementrian Agama- itu membuat inovasi metode pembelajaran baik di pesantren maupun lembaga pendidikan formal untuk dapat menarik minat masyarakat dalam menuntut ilmu. “Awal Mbah Mun masih bertugas di Depag, anak-anak asuh dipasrahkan ke kami. Sepulang dari kantor, beliau membimbing santri yang waktu itu masih tergolong sangat sedikit. Namun setelah pensiun, Mbah Mun menghabiskan waktu untuk fokus mengelola pondok yang basisnya hafalan Al-Quran, makanya dinamakan Tahfidzul Quran. Semenjak saat itu, perkembangan PPTQ semakin pesat. Sembari mengasuh santri, kami juga mendirikan beberapa lembaga pendidikan setingkat SMP dan SMA yang kami namakan SMP Takhasus Al-Qur’an dan SMA Takhasus Al-Quran,” tutur Pria yang intim disapa Miftah.

Kabar itu menyebar dengan pesat. Program andalan PPTQ yakni menghafal Al-Qur’an pun menjadi daya tarik tersendiri oleh warga di penjuru Nusantara. Terbukti pada tahun 90an, santri yang ‘mondok’ di PPTQ berasal dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Seperti dari Aceh, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Bahkan beberapa santri berasal dari luar negeri, diantaranya Singapura dan Malaysia. “Dulu ada santri jebolan sini yang merantau ke Negara Brunai Darussalam. Ia menikah dengan warga sana yang masih memiliki trah sultan Brunai. Ketika pulang, Ia mampir ke PPTQ dengan memberikan sumbangan sebesar 60 juta rupiah. Namun ketika santri itu berkunjung, Mbah Mun sudah meninggal. Dan PPTQ di teruskan oleh anaknya, Achmad Faqih Muntaha. Sedangkan dana sumbangan itu kami alokasikan untuk pembangunan sekolah yang ada dikomplek makan Mbah Mun, tepatnya di Desa Dero Duwur, Kec. Mojotengah, Kab. Wonosobo,” urainya.

Dikomplek makam yang jaraknya hanya 7 km dari pusat PPTQ tersebut, didirikan sekolah filial (kelas jauh) dari Takhasus Al-Quran tingkat SLTP dan SLTA. Dibawah kepemimpinan Achmad Faqih Muntaha, PPTQ mampu memiliki lembaga pendidikan sejumlah 6 sekolah inti d

0 thoughts on “Pondok Terbesar di Wonosobo Ini Dulu Cuma Punya 3 Santri, Kini Sudah Ribuan Santri

  1. Barokalloh…
    Dahulu (sampai sekarang) pengen banget rasanya mengunyah pendidikan di ponpes kalibeber. sayang ortu ga mondokin disana.. 🙁
    Tapi bersyukur masih bisa ngrasain di dunia pesantren, Nikmat Tak tergantikan..
    Ayo Mondok Biar Keren.!!
    Ga Mondok ga keren.!!
    Jangan Ngaku Keren Kalo belum Mondok :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *