Masjid Al-Manshur, Saksi Bisu Penyebaran Islam di Wonosobo

by -99 views

WONOSOBOZONE – Masjid Al Manshur Wonosobo masih menjadi magnet yang kuat baik bagi kehidupan sosial-kemasyarakatan maupun kunjungan berziarah di Kabupaten Wonosobo. Terbukti Masjid di Jalan Masjid Nomor 13 Kauman Utara Wonosobo itu selalu ramai pengunjung baik pada hari-hari biasa, pengajian selapanan hingga hari-hari besar keagamaan. Tak hanya sebagai tempat beribadah saja, Masjid yang berdiri sejak tahun 1800an itu juga menjadi saksi bisu penyebaran ajaran agama Islam di bumi Wonosobo, serta saksi pendirian cikal bakal Kabupaten Wonosobo..

.
Masjid tersebut juga lokasi referensi masyarakat dari sejumlah penjuru tanah air. Karena di komplek masjid tersebut terdapat makam salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah Wonosobo, yakni Kyai Walik. Konon, Kyai Walik merupakan satu di antara tiga tokoh pendiri Kabupaten Wonosobo. Yaitu; Kiyai Walik, Kyai Kolodete dan Kyai Karim. Ceritanya, mereka membuka hutan belantara hingga menjadi pemukiman dan menyebarluaskan ajaran Islam bagi penduduk..

.
“Dalam perjalannya, mereka bermukim di tempat yang berbeda-beda. Kyai Kolodete bermukim di daerah Dataran Tinggi Dieng, Kyai Walik bermukim di daerah sekitar Kota Wonosobo dan Kyai Karim bermukim di daerah Kalibeber,” ungkap Ketua Yayasan Masjid Al Manshur Wonosobo, Sugito BA kepada wartawan di sela pamantauan renovasi masjid Al-Manshur, Selasa (5/9)..

.
Kyai Walik sendiri disebut sebagai tokoh perancang kota. Dari berbagai sumber yang berhasil dikumpulkan, Kyai Walik merupakan seorang tokoh ulama yang paling dekat di hati rakyat dan seorang figur pemimpin merakyat. Menurut Sugito, sebelumnya tidak diketahui apabila di belakang masjid terdapat Makam Kyai Walik. “Dahulu lokasi masjid tersebut dipercaya sebagai pekaringan atau tempat berjemur para wali. Kemudian, saat KH Chabib Lutfi (ulama ternama Indonesia), melakukan kunjungan ke masjid tersebut, Ia melihat sebuah sinar terpancar di belakang masjid, yang dipercayai dari makam tokoh ulama Kyai Walik,” tutur Sugito. 

.
Ada ulama lain yang menyebut Kyai Walik adalah Abdul Khaqam. Kyai Walik berasal dari Yaman, datang pertama kali ke Indonesia di Kudus di rumah Sunan Kudus. Setelah empat tahun, ia diajak Sunan Kalijaga berdakwah. Sunan Kalijaga berdakwah ke Jawa Tengah selatan hingga di Mataram. Sedangkan Kyai Walik berdakwah ke Wonosobo. Dahulu, para peziarah banyak yang datang sambil membawa makanan dan membakar kemenyan serta berdoa. .

.
Selain pandangan Chabib Lutfi, sebelumnya juga pernah ada orang dari Kasunanan Surakarta datang ke masjid Al-Manshur untuk shalat. Ia juga melihat jika di belakang masjid tersebut ada makam kuno. Selain ingin shalat, orang tersebut berniat untuk berziarah karena makam tersebut merupakan salah satu makam kyai Wonosobo yang dicari. “Menurut ulama tafsir Surabaya, Kiai Walik bernama asli Abdul Kholiq. Sedangkan menurut KH Chabib Lutfi bernama asli Ustman bin Yahya,” terang Sugito.

.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan ziarah diisi dengan membaca yasin dan berdoa. Setelah itu, mereka mengikuti pengajian setiap hari Sabtu di Masjid Al Manshur. Masjid tertua itu memang memiliki tradisi pengajian setiap hari Sabtu yang disebut setonan. Jamaah yang datang pun terus mengalami peningkatan. “Untuk satu kesempatan, jamaah pengajian setonan minimal 1500 orang. Bahkan, pada Ramadan lalu, jumlahnya bisa mencapai 2000-an orang,” tambahnya..

.
Kegiatan pengajian setonan, biasanya diisi dengan kajian tafsir, fiqih dan berbagai kajian Islam lainnya. Pengajian setonan bakal terus dilestasikan hingga masa mendatang. Tak hanya menjadi rekomendasi berziarah dan pengajian, Masjid Al Manshur juga menjadi pathokan waktu shalat masyarakat di Kabupaten Wonosobo. Banyak orang datang untuk mencocokkan jam, karena terdapat bencet atau jam matahari yang menjadi pathokan waktu shalat. 
Selain itu, salah satu warga sekitar dan merupakan pengurus masjid, Haqqi El Anshory menambahkan, selain kegiatan keagamaan, di pelataran masjid tersebut terus dilakukan seperti pengembangan untuk kegiatan ekonomi masyarakat. Diantaranya pada saat bulan puasa, pelataran masjid Al-Manshur dijadikan Bazaar Ramadhan bagi warga sekitar masjid. “Kita juga kerap membuat event di halaman masjid. Kita ingin masjid bersejarah yang dimiliki Wonosobo ini bisa lebih hidup, banyak kegiatan,” pungkasnya. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *