Kemeriahan HUT RI Ke-72, Lomba K3 Wadahi Ibu Rumah Tangga Kreatif

by -68 views


WONOSOBOZONE – Para wanita yang bertempat tinggal di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto Kab. Wonosobo tampak antusias ramaikan perayaan HUT RI yang ke-72. Hal tersebut terlihat ketika ibu rumah tangga yang didominasi dari eks Tenaga Kerja Indonesia itu turut berpartisipasi dalam lomba Kebersihan, Kesehatan dan Keindahan (K3) antar dukuh yang digelar pihak desa pada Senin (28/8) di wilayah setempat. Berbagai olahan hasil bumi turut dibuat dengan sangat kreatif oleh para peserta dalam mempercantik masing-masing dukuh yang tengah dinilai, seperti nasi tumpeng, klepon, cenil, lopis, tempe kemul, dadar gulung dan kreasi olahan lain. Semua dihias dengan sangat menarik. Kepala Desa Krasak, Supinah mengatakan lomba K3 tersebut ditujukan sebagai wadah kreatifitas khususnya para wanita yang ada di masing-masih dukuh. “Desa Krasak terdiri dari 4 dukuh. Kebanyakan selama ini kami beri pelatihan-pelatihan semacam home industri agar para ibu rumah tangga yang ada di desa ini tak lagi bekerja di luar negeri, mengingat kebanyakan wanita disini menjadi TKI. Namun ketika dipasarkan hasil produksi dari pelatihan, kami masih mengalami kebuntuan. Terlebih dari intansi terkait belum merespon permohonan arahan yang telah kami ajukan berkali-kali terkait hal itu. Jadi kami berinisiatif membuat lomba ini sebagai wadah atas ilmu yang didapat dari pelatihan itu. Implementasinya disini,” ungkap Supinah di sela penilaian lomba K3 di salah satu dusun dari Desa Krasak, yakni Tawangsari.
Supinah juga menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pengurus RT, Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, dan para tokoh masyarakat yang sudah terlibat langsung dan ikut berperan aktif dalam menyukseskan penilaian lomba K3 ini. “Tentunya kebersamaan ini diharapkan menjadi motivasi seluruh masyarakat untuk lebih disiplin dalan menerapkan pola hidup sehat dan bersih,” harapnya. Selain mewadahi kreatifitas para wanita yang ada di wilayahnya, Supinah juga menyebut pada awal tahun 2018 pihaknya akan meng-eksekusi grand desain kampung durian yang telah dibuat. Ia meyakini program kampung durian yang menjadi ikon desanya bakal mendunia. “Desa kami memiliki kebun durian yang amat luas dan banyak, beberapa hasil panen buah durian disini kerap menjuarai tingkat nasional, baik dari segi bentuk, tekstur dan rasa. Jadi kami yakin program ini akan berhasil. Tapi kami tak bisa bekerja sendiri, butuh uluran tangan dari pemerintah,” tandasnya.
Sementara salah satu panitia, Ahmad Kholil mengaku sangat terkesan atas antusiasme warga dalam perayaan tersebut. Namun disisi lain, Ia mengungkapkan keprihatinan atas potensi ibu-ibu rumah tangga yang belum dapat tersalurkan. Terlebih dalam wilayah yang ia tempati, yaitu dukuh Tawangsari, dikatakan Kholil memiliki hasil kerajinan batik yang layak dijual. “Disini sebenarnya kaya akan potensi, namun karena kurangnya pengetahuan kami, potensi tersebut belum dapat optimal tersalurkan. Oleh karena itu, perhatian pemerintah sangat kami butuhkan,” pungkasnya. (Ard)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *