Hari jadi, Wonosobo gratis Operasi bibir sumbing 

by -293 views

Kunjungan Wakil Bupati sebelum operasi bibir sumbing dilaksanakan. Foto: Ilham Ardha
WONOSOBOZONE – HUT Kabupaten Wonosobo Ke-192  sedikitnya 25 penderita bibir sumbing dikalangan balita mengikuti operasi gratis yang digelar Rumah Sakit Islam (RSI) Wonosobo selama dua hari, Sabtu dan Minggu (29 s/d 30/7). Hal itu membuktikan bahwa masih banyak ditemukannya sejumlah anak bibir sumbing di Wonosobo yang layak mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten. Dengan harapan, tidak lagi muncul bayi lahir dengan bibir sumbing dikemudian hari. Dokter ahli bedah plastik dan estetika dari rumah sakit Permata Sari Semarang, dr. Kartono menyampaikan harapan tersebut saat ditemui di sela acara bakti sosial operasi bibir sumbing hari kedua, di ruang ICU RSI Wonosobo, Minggu (30/7). Bahkan Karsono menghimbau kepada ibu hamil, terutama di masa 3 bulan pertama lebih berhati-hati menjaga perkembangan janin dalam kandungannya. Sebab menurut Karsono, kurangnya asupan gizi pada janin dapat berimbas pada lahirnya bayi dengan bibir sumbing. “Usia kehamilan awal akan sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin. Jadi bagi para ibu hamil jangan malas makan hanya karena merasa mual,” terangnya.
Faktor pencetus atau pemicu bibir sumbing, dikatakan Dr Karsono juga bisa disebabkan virus yang hinggap pada ibu hamil di triwulan pertama. Bahkan, menurutnya penyakit seperti influenza pun, apabila terjadi pada ibu hamil, harus dihadapi secara hati-hati. “Biasanya karena merasa hanya flu biasa, lalu minum obat bebas, beli di warung, sehingga justru berdampak tidak baik bagi pertumbuhan janin,” terangnya. Dengan asupan gizi yang terjaga, daya tahan tubuh wanita hamil, menurut Dr. Karsono akan lebih terjaga, bahkan apabila terpapar virus seperti influenza, tidak diperlukan obat-obatan, bisa sembuh, dan janin juga tidak terganggu.

Menanggapi arahan dari dr Karsono, Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo yang juga hadir dalam acara bakti sosial bagi 25 anak penderita bibir sumbing tersebut, meminta Dinas Kesehatan untuk mengambil langkah tindak lanjut. “Kita semua berharap, agar kedepan tidak ada lagi kelahiran dengan bibir sumbing sehingga secepatnya Dinas Kesehatan segera sosialisasi kepada para ibu hamil terkait hal ini,” tutur Wabup. Tak hanya jajaran Dinkes, para tenaga kesejahteraan sosial Kecamatan (TKSK) yang selama ini banyak berperan dalam penanggulangan PMKS, termasuk anak bibir sumbing diharapkan Wabup juga turut aktif menyebarluaskan imbauan tersebut. Kinerja TKSK, yang telah menginisiasi bakti sosial operasi bibir sumbing hingga mencapai 150 anak sejauh ini, menurut Wabup layak diapresiasi positif, karena dengan upaya tersebut, penanggulangan dampak bibir sumbing terus meningkat.

Foto bersama. Dokter dan pasien foto bersama. Foto: Ilham Ardha

Koordinator TKSK Kabupaten Wonosobo, Tri Purwanto sebelumnya menyebut, bahwa ia bersama rekan-rekan nya memang terus mengupayakan agar jumlah PMKS, termasuk di dalamnya anak penderita bibir sumbing bisa dibantu. “Kami menjalin kerjasama dengan Yayasan Permata Sari Semarang, dan untuk pelaksanaan operasi kami mengajak Rumah Sakit di Wonosobo untuk bisa memfasilitasi tempat dan tenaga medis serta paramedisnya,” ungkap Tri. Ia mengaku sangat bersyukur karena setiap kali mengusulkan bakti sosial bagi para penderita bibir sumbing, banyak pihak yang membantu, termasuk Dinas Sosial dan Pemdes Kabupaten, RSI Wonosobo, hingga dukungan dari pimpinan daerah seperti yang ditunjukkan Wakil Bupati. (Ard,hd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *